Senin, 29 Juni 2015

Minggu, 28 Juni 2015

Tarawih yang cepat

Bismillah..
mtsnberbek - Peringatan Bagi Imam Tarawih yang cepat dalam gerakan dan Khususnya bacaan Al-Qur’annya:
Ada hal yang amat perlu untuk diperhatikan dalam Shalat Tarawih, yaitu kebiasaan terburu-buru dalam melaksanakan Shalat Taraweh serta berbangga diri ketika Shalat Tarawehnya selesai terlebih dahulu.
Sehingga tidak jarang karena terlalu cepatnya Shalat Taraweh yang mereka lakukan mengakibatkan ada sebagian kewajiban yang tidak dilaksanakan seperti melaksanakan Ruku`, I`tidal dan Sujud dengan Thuma`ninah atau karena membaca Al-Fatihah dengan sangat cepat sehingga menggugurkan salah satu hurufnya atau menggabungkan dua huruf menjadi satu.
Dengan begitu Shalat yang mereka laksanakan menjadi tidak sah yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa capek dan dosa.
Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an hal. 89, bahwasannya :
“Bagi orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an haram membaca Al-Qur’an dengan Lahn yaitu terlalu panjang dalam membacanya atau terlalu pendek sehingga ada sebagian huruf yang mestinya dibaca panjang malah dibaca pendek, atau membuang harakat pada sebagian lafadznya yang membuat rusak maknanya, bagi yang membaca Al-Qur’an dengan cara demikian adalah haram dan pelakunya dihukumi Fasiq sedangkan bagi yang mendengarnya juga berdosa jika ia mampu mengikatkan atau menghenti-kannya akan tetapi lebih memilih diam dan mengikutinya”.
Maka dari itu harom bagi kita mengikuti imam sholat taraweh yang membaca Al-Qur’an dengan bacaan terburu- buru hingga menghilangkan huruf atau salah harokat Al-Qur’an yang dibacanya.
Wallahu a’lam bishshowab…

by : Buya Yahya

Imam An-Nawawi



mtsnberbek - Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi (الإمام العلامة أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الدمشقي), atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i. Ia lahir di desa Nawa, dekat kotaDamaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama dia,an-Nawawi ad-Dimasyqi. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits.

Imam Nawawi pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini dia belajar dan sanggup menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Kemudian dia menghafal kitab al-Muhadzdzabb pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, dibawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad.
Semasa hidupnya dia selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian dia adalah kain kasar, sementara serban dia berwarna hitam dan berukuran kecil.

GURU-GURU Imam An-Nawawi
Sang Imam belajar pada guru-guru yang amat terkenal seperti Abdul Aziz bin Muhammad Al-AshariZainuddin bin Abdud Daim,Imaduddin bin Abdul Karim Al-HarastaniZainuddin Abul BaqaKhalid bin Yusuf Al-Maqdisi An-Nabalusi dan Jamaluddin Ibn Ash-ShairafiTaqiyuddin bin Abul YusriSyamsuddin bin Abu Umar. Dia belajar fiqih hadits (pemahaman hadits) pada asy-Syaikh al-Muhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi Al-Andalusi. Kemudian belajar fiqh pada Al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin usman Al-Maghribi Al-Maqdisi, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh dan Izzuddin Al-Arbili serta guru-guru lainnya.

MURID-MURID Imam An-Nawawi
Tidak sedikit ulama yang datang untuk belajar ke Iman Nawawi. Di antara mereka adalah al-Khatib Shadruddin Sulaiman al-Ja’fariSyihabuddin al-ArbadiShihabuddin bin Ja’wanAlauddin al-Athar dan yang meriwayatkan hadits darinya Ibnu Abil FathAl-Mazi dan lainnya.

Karya Imam An-Nawawi
Imam Nawawi meninggalkan banyakkarya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya: Dalam bidang hadits:
  • Al-Arba'in An-Nawawiyah (الأربعين النووية), kumpulan 40 -tepatnya 42- hadits penting.[2]
  • Riyadhus Shalihin (رياض الصالحين),[3] kumpulan hadits mengenai etika, sikap dan tingkah laku yang saat ini banyak digunakan di dunia Islam.
  • Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), (شرح صحيح مسلم), penjelasan kitab Shahih Muslim bin al-Hajjaj.[4]
  • At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir. (التقريب والتيسير لمعرفة سنن البشير النذير), pengantar studi hadits.
Dalam bidang fiqih:
  • Minhaj ath-Thalibin (منهاج الطالبين وعمدة المفتين في فقه الإمام الشافعي).
  • Raudhatuth Thalibin,
  • Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab (المجموع شرح المهذب), panduan hukum Islam yang lengkap.
  • Matn al-Idhah fi al-Manasik (متن الإيضاح في المناسك), membahas tentang haji.
Dalam bidang bahasa:
  • Tahdzibul Asma’ wal Lughat.
Dalam bidang akhlak:
Dan lain-lain:
  • Tahdzib al-Asma (تهذيب الأسماء).
  • Ma Tamas Ilaihi Hajah al-Qari li Shahih al-Bukhari (ما تمس إليه حاجة القاري لصـحيح البـخاري).
  • Tahrir al-Tanbih (تحرير التنبيه).
  • Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti (آداب الفتوى والمفتي والمستفتي).
  • At-Tarkhis bi al-Qiyam (الترخيص بالقيام لذوي الفضل والمزية من أهل الإسلام).

Senin, 22 Juni 2015

SIFAT WAJIB, MUSTAHIL, JAIZ BAGI PARA RASUL ALLAH




Sifat Wajib, Mustahil, Jaiz Bagi Para Rasul Allah | Terjemahan Kitab Riyadhul Badi’ah


Riyadul Badiah
Terjemahan Kitab Riyadhul Badi’ah 
ويجب للرسل عليهم الصلاة والسلام الصدق في جميع ما أخبروا به ولو بالمزح والأمانة والفطانة وتبليغ ما أمروا بتبليغه للخلق
Dan Wajib (Mengimani) bagi Rasul bagi mereka Shalawat dan Salam, bahwa mereka benar dalam segala apa yang diberitakan oleh para Rasul, walau hanya dengan (gambaran) candanya (para Rasul), dan Wajib mengetahui dan mengimani, bahwa para Rasul itu (memiliki) Sifat Amanah (Terpercaya) dan memiliki Sifat Fathonah (Pintar) dan memiliki Sifat Tabligh, menyampaikan semua yang diperintahkan Allah kepada Para Rasul untuk menyampaikanya kepada Makhluq Allah.
ويستحيل عليهم الكذب والخيانة والبلادة وكتمان شيء مما أمروا بتبليغه
Dan mustahil kepada Para Rasul, bahwa mereka memiliki Sifat Bohong, dan memiliki Sifat Khiyanat, dan memiliki sifat Bodoh, dan memiliki Sifat menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan Allah kepada Para Rasul untuk menyampaikanya. (Semuanya itu Sifat-Sifat yang tidak mungkin ada pada Para Rasul)”
ويجوز في حقهم صفات البشر التي لا تنقص بسببها مراتبهم العلية كالأكل والشرب والمرض والوقاع الحلال
“Dan Boleh (Tidak Wajib dan Tidak Mustahil) bagi Haq para Rasul, memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang tidak akan mengurangi dengan sebab sifat manusia itu akan martabat ke Rasulan mereka yang luhur seperti Sifat Makan, Minum, Sakit, berhubungan yang halal”
ويجمع معنى هذه الصفات كلها قول لا إله إلا الله محمد رسول الله
Dan terkumpul arti dari sifat-sifat ini (yang disebutkan dari pertama bab) semuanya dalam ucapan (لا إله إلا الله محمد رسول الله) Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah (Tidak ada Tuhan yang Haq kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah)
Wallahu A’lam





                                                                                                                © 2015 mtsnberbek.com

Minggu, 21 Juni 2015

MARHABAN YAA RAMADHAN

Ramadhan adalah merupakan bulan yang ke-9 dan bulan paling suci di dalam kalendar Islam. Seperti bulan Islam lain, bulan ini mempunyai 29 atau 30 hari. Pada bulan ini umat Islam ini diwajibkan berpuasa seperti yang termaktub dalam al-Qur'an yang bermaksud:
Bulan Ramadan, yang di dalamnya diturunkan al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan (antara yang benar dan salah). Oleh itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu...
— surah Al-Baqarah, ayat 185


Bulan Ramadan merupakan masa untuk umat Islam berfikir dan merenung diri sendiri, bersolat, membuat kebajikan dan meluangkan masa dengan keluarga serta sahabat handai. Diharapkan dengan berpuasa dari fajar hingga senja umat Islam akan dapat mempertingkatkan disiplin diri dan menjadi pemurah, dengan mengingati kesusahan hidup sebahagian manusia yang miskin papa.

Etimologi
Ramadan berasal dari kata akar رمض , yang bererti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Dari kata akar tersebut kata Ramadan digunakan untuk menunjukkan adanya sensasi panas ketika seseorang itu kehausan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadan digunakan kerana pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimanamatahari membakar tanah. Hal ini dikiaskan dengan umat Islam yang mengambil kesempatan Ramadan untuk serius mencairkan, memuhasabah diri dan memperbaharui kekuatan jasmanirohani dan tingkah lakunya, sebagaimana panas mewakili sesuatu yang dapat mencairkan bahan.

Penentuan awal Ramadan.

Rencana utama: hilal
Takwim Hijrah didasarkan pada orbit bulan mengelilingi bumi dan awal setiap bulan ditetapkan saat terjadinya hilal (bulan sabit). Kaedah penentuan saat terjadinya hilal yang digunakan ketika ini ada dua, iaitu kaedah penglihatan dengan mata kasar ("rukyah") dan kaedah perhitungan astronomi ("hisab").
Sesetengah negara menggunakan rukyah sahaja manakala sesetengah yang lain menggunakan hisab sahaja [3]. Dunia Melayu amnya menggunakan kedua-dua kaedah sekaligus [4].

Peristiwa semasa Ramadan.

Turunnya al-Qur'an.

Rencana utama: Nuzul Quran
Para ulama bersetuju bahawa Al-Quran mula diturunkan pada bulan Ramadan, namun tarikhnya kurang jelas. Ahlu sunnah wal jamaahmenerima bahawa al-Qur'an diturunkan pada malam Jumaat, 17 Ramadan [5] dan oleh itu 17 Ramadan diperingati sebagai hari turunnya wahyu (Nuzul Quran) buat pertama kalinya (terdapat juga perbezaan pendapat mengenai perlu tidaknya peristiwa ini dirayakan [6]). Pada malam tersebut surah Al-‘Alaq ayat 1 hingga 5 diturunkan ketika Nabi Muhammad s.a.w. sedang berada di Gua Hira. Peringatan peristiwa ini biasanya dilakukan dengan acara ceramah di masjid-masjid.

Lailatul Qadar.

Rencana utama: Lailatul Qadar
Lailatul Qadar (malam ketetapan), adalah satu malam yang khusus terjadi di bulan Ramadan. Malam ini dikatakan dalam al-Qur'anpada surah Al-Qadr, lebih baik daripada seribu bulan [7]. Saat pasti berlangsungnya malam ini tidak diketahui namun menurut beberapariwayat, malam ini jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadan, tepatnya pada salah satu malam ganjil yakni malam ke-21, 23, 25, 27 atau ke-29. Malah ada sebahagian ulama yang menganggap ia berlaku pada malam genap seperti malam 24 Ramadan. Walaubagaimanapun, antara hikmah malam ini dirahsiakan agar umat Islam rajin beribadat di sepanjang malam khususnya di sepuluh malam yang terakhir. Sebahagian Muslim biasanya berusaha tidak melewatkan malam ini dengan menjaga diri agar berjaga pada malam-malam terakhir Ramadan sambil beribadah sepanjang malam.

Lain-lain.

Terdapat banyak peristiwa penting yang berlaku dalam bulan ini [8]. Antaranya:
  • 10 Ramadan 8 H: Pembukaan Makkah (630 M)
  • 17 Ramadan 2 H: Perang Badar (624 M)

Amalan sewaktu Ramadan.

Umat Islam digalakkan membanyakkan ibadah pada bulan Ramadan kerana ganjarannya digandakan pada bulan ini.

Puasa Ramadan.


Selama sebulan Ramadan, umat Islam akan
 berpuasa setiap hari, dari terbit fajar (subuh) sehinggalah terbenamnya matahari (maghrib). Selama berpuasa, mereka harus menahan diri dari makan, minum dan perkara-perkara lain yang membatalkan puasa sehingga tiba waktu berbuka. Syariat ini diturunkan pada 10 Syaaban tahun ke-2 Hijrah dan sejak itu, masyarakat Islam menyambut bulan Ramadan dengan seharian berpuasa.Rencana utama: Ibadat puasa
Orang Islam disunatkan bersahur sebelum berpuasa [2]. Sahur (makan sebelum fajar) membezakan puasa orang Islam dan puasa lain. Semasa berbuka puasa (iftar), disunatkan pula berbuka dengan makanan atau minuman manis serta tidak berlebih-lebihan. Disunatkan juga untuk menjamu orang lain berbuka puasa.

Solat Tarawih

Rencana utama: Solat Sunat Tarawih
Pada malam harinya, setelah solat Isyak, umat Islam melanjutkan ibadahnya dengan melaksanakan solat Tarawih, solat khusus yang hanya dilakukan pada bulan Ramadan. Solat tarawih, walaupun dapat dilaksanakan bersendirian, umumnya dilakukan secara berjama'ah di masjid-masjid. Di sesetengah tempat, sebelum pelaksanaan solat tarawih, diadakan ceramah singkat untuk menasihati para jama'ah.

Zakat Fitrah

Rencana utama: Zakat Fitrah
Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan khusus pada bulan Ramadan atau paling lambat sebelum selesainya Solat Sunat Hari Raya. Setiap individu muslim yang berkemampuan wajib membayar zakat jenis ini [9]. Nilai zakat fitrah yang harus dikeluarkan per individu adalah satu gantang makanan ruji di daerah bersangkutan. Jumlah ini adalah setara dengan 2.70 kg beras.

Aidil Fitri

Rencana utama: Hari Raya Aidil Fitri
Akhir bulan Ramadan dirayakan dengan sukacita oleh seluruh Muslim di dunia. Pada malam harinya (malam 1 Syawal), yang biasa disebut malam kemenangan, mereka akan mengumandangkan takbir bersama-sama. Esoknya tanggal 1 Syawal, yang dirayakan sebagai Hari Raya Aidil Fitri, semua Muslim baik lelaki mahupun perempuan digalakkan kemasjid untuk melakukan Solat Sunat Hari RayaSolat dua raka'at ini akan diikuti khutbah mengenai Aidil Fitri.

Kamis, 18 Juni 2015

KISAH TELADAN ANTARA ANAK DAN AYAH


Kenapa bukan ayah saja yang meninggal?


Anak SolehDiceritakan ada seorang bocah kecil yang masih duduk di bangku kelas 3 SD. Suatu kali ustadz dikelasnya memotivasi para siswa agar dapat menjaga shalat Shubuh secara berjamaah. Bagi anak-anak, bangun Shubuh sejatinya merupakan suatu perkara yang paling sulit. Namun, sang bocah ini telah bertekad untuk menjalankan shalat Shubuh berjamaah di masjid. Lalu dengan cara bagaimana bocah ini akan memulainya? Dibangunkan ayahnyakah? Ibunyakah? Atau dengan alarmkah? … Bukan!! Walhasil, sang bocah ini nekad tidak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman bocah ini bergadang, hingga tatkala adzan berkumandang, iapun ingin segera keluar menuju masjid. Akan tetapi, tatkala ia membuka pintu rumahnya, suasananya sangat gelap, pekat, sunyi, senyap, hingga membuat nyalinya menjadi ciut. Tahukah Anda, apa yang ia lakukan kemudian?!
Tatkala itu, sang bocah mendengar suara langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul tanah. Ya.., ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid, maka ia mengikuti dibelakangnya tanpa sepengetahuan sang kakek tersebut. Begitu pula cara ia pulang dari masjid, bocah itu pun menjadikannya sebagai kebiasaan begadang malam, shalat shubuh mengikuti kakek-kakek. Dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah. Tak ada orang tuanya yang tahu, selain hanya melihat sang bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain. Dan ini dilakukan sang bocah agar bisa begadang di malam harinya.
Hingga suatu saat terdengar kabar olehnya, bahwa kakek-kakek itu telah meninggal. Sontak, si bocah tadi itu menangis sejadi-jadinya. Sang ayah menjadi terheran-heran, “Mengapa kamu menagis, nak? Ia bukanlah kakekmu, bukan siapa-siapa kamu!” Saat si ayah mengorek sebabnya ia menangis, sang bocah. justeru berkata, “Kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”. “Na’udzubillah, kenapa kamu berbicara seperti itu?” Kata sang ayah terheran. Si bocah lalu berkata, “Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Shubuh dan mengajakku ke masjid! Sementara lantaran kakek itu, setiap paginya aku biasa berjalan di belakangnya untuk shalat jamaah Shubuh.”
Katakanlah, “ALLAHU AKBAR.”

Rabu, 10 Juni 2015

ADZAN DAN IQAMAH UNTUK BAYI BARU LAHIR




Bayi
Ulama sepakat bahwa sunnah hukumnya mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri pada bayi yang baru dilahirkan. Kesunnahan ini dapat diketahui dari sabda Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh Ubaidillah bin Abi Rafi’ :
عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ رَافِعٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِيْ أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ
“Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya, ia berkata : Aku melihat Rasulullah SAW, membacakan adzan di telinga Husein bin Ali RA, ketika Siti Fatimah melahirkannya dengan adzan shalat” (Sunan Abu Dawud No. 4441).
Dalam hadits lain beliau bersabda:
مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ فَأَذَّنَ فِيْ أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِيْ أُذُنِهِ الْيُسْرَى لمَ ْتَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ ( الأذكار النووي ص:)۲٥٣
“Barangsiapa yang dilahirkan untuknya seorang anak kemudian dia mengazankannya di telinga kanannya dan meng-iqamahkannya di telinga yang kiri maka tak akan diganggu oleh syetan Ummi Sibyan”. (Syekh Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Azkar An-Nawawi Halaman 253).
Mengenai keutamaan dan fadhilahnya, sayyid Alwi al-Maliki menyatakan :
الأَوَّلُ فِعْلُهُ فِيْ أُذُنِ الْمَوْلُوْدِ عِنْدَ وِلاَدَتِهِ فِيْ أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَالإِقَامَةُ فِيْ أُذُنِهِ الْيُسْرَى وَهَذَا قَدْ نَصَّ فُقَهَاءُ الْمَذْهَبِ عَلَى نَدْبِهِ وَجَرَى بِهِ عَمَلُ عُلَمَاءِ الأَمْصَارِ بِلاَ نَكِيْرٍ وَفِيْهِ مُنَاسَبَةٌ تَامَّةٌ لِطَرْدِ الشَّيْطَانِ بِهِ عَنِ الْمَوْلُوْدِ وَلِنُفُوْرِهِمْ وَفِرَارِهِمْ مِنَ الأَذَانِ كَمَا جَاءَ فِي السُّنَّةِ (مَجْمُوْعُ فَتَاوِيْ وَرَسَائِلُ، ۱۱۲
“Pertama (yang harus dilakukan adalah) melantunkan adzan di telinga kanan anak yang baru dilahirkan dan iqamah di telinganya yang kiri. Para Ulama telah bersepakat bahwa perbuatan ini tergolong sunnah. Dan mereka telah mengamalkan hal tersebut tanpa seorangpun yang mengingkarinya. Perbuatan ini mengandung hikmah untuk mengusir syetan dari anak yang baru dilahirkan itu, karena syetan akan lari ketika mendengan adzan, sebagaimana keterangan dalam hadits Nabi Muhammad SAW”. (Majmu’ Fatawi Warasail, 112).
Sedang iqamah disunahkan dibaca pada telinga bayi sebelah kiri, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut:
مَنْ وُلِدَ لَهُ فَأَذَّنَ فِيْ أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِيْ أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ يَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ
“Barangsiapa yang dikaruniai anak, kemudian dia melantunkan adzan di telinga bayi sebelah kanan dan iqamah pada telinga kiri, maka tidak akan diganggu oleh syetan” (Riwayat Ibnu Sinni).
Menjadi jelas bahwa melantunkan adzan dan iqamah di telinga bayi yang baru dilahirkan hukumnya sunnah. Dan diantara fungsinya adalah mengusir syetan pengganggu pada bayi tersebut.
Setelah adzan dan iqamah disunnahkan pula untuk membaca do’a berikut :
أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَّهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَّمَّةٍ
Artinya : “Aku memohon perlindungan untukmu (bayi) dengan kalimat- kalimat Allah yang sempurna dari semua setan dan hewan yang berbisa, dan dari setiap pandangan mata yang berbahaya”.



                                                                                         Copyright © 2015 mtsnberbek.com
Selamat Datang di Blogsite MTs Negeri Berbek - Mewujudkan Insan MUTTAQIN (Mandiri, Unggul, Taqwa, Terampil, Amanah, Qur'ani dan INovatif #mtsnberbek.com
#mtsnberbek.com Terima Kasih Anda telah berkunjung di Blogsite kami - Jadilah orang pertama di antara teman-teman yang menyukai ini. #MADRASAH LEBIH BAIK LEBIH BAIK MADRASAH
Copyright © 2015 MTs Negeri Berbek Kabupaten Nganjuk . Designed by Zayn Mohammad