Rabu, 05 Oktober 2016

IMAN, ISLAM dan IKHSAN

Iman, islam, ihsan adalah tiga kata yang maknanya saling berkaitan, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Rasulullah Saw.
“Diriwayatkan dari umar bin khatab, “Suatu hari, disaat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Tiba-tiba muncullah seorang laki-laki yang mengenakan pakaian serba putih, rambutnya hitam pekat, tidak berjejak, dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya, samppai dia duduk di depan Nabi Saw. dan menyandarkan kedua lututnya pada lutut Nabi Saw.seraya meletakkan kedua telapak tangannya diatas paha belia. Kemudian ia berkata, Wahai Muhammad, ajarilah aku tentang islam,
Nabi bersabda, islam adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul-Nya, engkau mendirikan solat, mengelurkan zakat, berpuasa ramadhan, dan menunaikan ziarah haji ke baitullah jika engkau mampu menempuh perjalanannya. Segera saja laki-laki itu berkata, “Engkau benar wahai Muhammad.” . . . . . . . . . . . . . Dia kembali berkata, Wahai Muhammad kabarilah aku tentang iman,
Muhammad bersabda, iman adalah hendaknya engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitb-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman pula kepada ketentuan (qadar) baik ataupun buruk ,”Engkau benar Muhammad , Kemudian ia berkata lagi “jelaskan padaku tentang ihsan ,
Rasulullah bersabda” Hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya atau jika engkau tidak melihat-Nya, maka Alla-lah yang melihat engkau.
            Begitulah kalau jika dilihat dari segi aspek lahirnya, maka agama yang diajarkan jibril adalah islam, agama juga disebut iman jika yang diamati adalah aspek batinnya. Kemudian agama baru disebut ihsan jika aspek batin (iman) dan lahirnya (amal saleh) telah di penuhi secara utuh dan sempurna.
iman
Pengertian iman
            Secara bahasa iman berarti membenarka (tashdiq), sementara menurut istilah ialah “membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatannya”. Sedang menurut istilah yang sesungguhnya ialah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur dengan syak dan ragu, serta memberi pengaruh terhadap pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Kata iman dalam Al-quran digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Ar- Raghib al-Ashfahani (ahli kamus Al-quran) mengatakan, iman didalam Al-quran terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya sebatas dibibir saja padahal dalam hati dan perbuatannya tidak beriman, terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya terbatas pada perbuatannya saja, sedang hati dan ucapannya tidak beriman dan ketiga kata iman terkadang digunakan untuk arti iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan di amalkan dalam perbuatan sehari-hari.

Rukun (pilar-pilar) iman dalam islam
            Sesuai dengan hadits Rasulullah saw, diatas sudah dijelas bahwasanya ada enam rukun iman yang harus diyakini untk menjadi seorang islam yang sempurna dan menjadi seorang hamba Allah yang ihsan nantinya, enam rukun iman tersebut nadalah:
Beriman kepada Allah Swt
            Yakni beriman kepada rububiyyah Allah Swt, maksudnya : Allah adalah Tuhan, Pencipta, Pemilik semesta, dan Pengatur segala urusan, Beriman kepada uluhiyyah Allah Swt, maksudnya: Allah sajalah tuhan yang berhak di sembah, dan semua sesembahan selain-Nya adalah batil, iman kepada Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya maksudnya: bahwasanya Allah Swt, memiliki nama-nama yang mulia, dan sifat-sifat-Nya yang sempurna serta agung sesuai yang ada dalam Al-quran dan Sunnah Rasul-Nya.
Beriman kepada malaikat
            Malaikat adalah hamba Allah yang mulia, mereka diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, serta tunduk dan patuh menta’ati-Nya, Allah telah membebankan kepada mereka berbagai tugas, Diantaranya adalah : Jibril tugasnya menyampaikan wahyu, Mikail mengurusi hujan dan tumbuh-tumbuhan, Israfil meniup sangsakala di hari kiamat, Izrail (malaikat maut), Raqib , Atit,mencatat amal perbutan manusia, Malik menjaga neraka, Ridwan menjaga surga, dan malaikat-malaikat yang lain yang hanya Allah Swt yang dapat mengetahuinya.
Beriman kepada kitab-kitab
            Allah yang Maha Agung dan Mulia telah menurunkan kepada para Rasul-Nya kitab-kitab, mengandung petunjuk dan kebaikan. Diantaranya: kitab taurat diturunkan kepada Nabi Musa, Injil diturunkan kepada Nabi Isa, Zabur diturunkan kepada Nabi Daud, Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, Al-quran diturunkan Allah Swt, kepada Nabi Muhammad Saw, Dengannya Allah telah menasakh (menghapus) semua kitab sebelumnya. Dan Allah telah menjamin untuk menjaga dan memeliharanya, karena ia akan menjadi hujjah atas semua makhluk, sampai hari kiamat.
Beriman kepada para rasul
            Allah telah mengutus kepada maakhluk-Nya para rasul, rasul pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad Saw, dan semua itu adalah manusia biasa, tidak memiliki sedikitpun sifat ketuhanan, mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan dengan kerasulan. Dan Allah telah mengakhiri semua syari’at dengan syari’at yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw,yang diutus untuk seluruh manusia , maka tidak ada nabi sesudahnya.
Beriman kepada hari akhirat
            Yaitu hari kiamat, tidak ada hari lagi setelahnya, ketika Allah membangkitkan manusia dalam keadaan hidup untuk kekal ditempat yang penuh kenikmatan atau ditempat siksaan yang amat pedih. Beriman kepada hari akhir meliputi beriman kepada semua yang akan terjadi setelah itu, seperti kebangkitan dan hisab, kemudian surga atau neraka.

Beriman kepada (taqdir) ketentuan Allah
            Taqdir artinya: beriman bahwasanya Allah telah mentaqdirkan semua yang ada dan menciptakan seluruh mahluk sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahalu, dan menurut kebijaksanaan-Nya, Maka segala sesuatu telah diketahui oleh Allah, serta telah pula tertulis disisi-Nya, dan Dialah yang telah menghendaki dan menciptakannya.
Islam
Pengertian islam
            kata islam merupakan pernyataan kata nama yang berasal dari bahasa arab aslama,yaitu bermaksud “untuk menerima, menyerah, atau tunduk” Dengan demikian islam berarti penerimaan dari dan penundukan kepada tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari Al-qur,an. Dalam beberapa ayat, kualitas islam sebagai kepercayaan ditegaskan: “ Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama islam)” . Ayat lain menghubungkan islam dan din (lazimnya diterjemahkan sebagai “Agama”) .” Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu,  dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai islam jadi agama bagimu”.
Secara etimologis kata islam diturunkan dari akar kata yang sama dengan kata salam yang berarti “Damai”. Kata muslim (sebutan bagi pemeluk agama islam) juga berhubungan dengan kata islam, kata tersebut berarti ”Orang yang berserah diri kepada Allah”.
Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut, umumnya di galakan untuk memegang lima rukun islam, yaitu lima pilar yang menyatukan muslim sebagai sebuah komunitas. Islam adalah syari’at Allah terakhir yang diturunkan-Nya kepada penutup para nabi dan Rasul-Nya,  Muhammad bin Abullah Saw, ia merupakan satu-satunya agama yang benar. Allah tidak menerima agama dari siapapun selainnya. Dia telah menjadikannya sebagai agama yang mudah, tidak ada kesulitan dan kesusahan didalamnya, Allah tidak mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para pemeluknya apa-apa yang mereka tidak sanggup melakukunnya. Islam adalah agama yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran, parosnya keadilan, tiangnya kebeenaran, ruhnya kasih sayang.ia merupakan agama agung yang mengarahkan manusia kepada seluruh hal yang bermanfaat, serta melarang dari segala hal yang membahayakan bagi agama dan kehidupan mereka didunia .

Rukun (pilar-pilar) islam
            Islam di bangun diatas lima rkun. Seseorang tidak akan menjadi muslim yang sebenarnya hingga dia mengimani dan melaksanakannya yaitu:
Rukun pertama: syahadat (bersaksi) bahwa, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad Rasulullah. Syahadat ini merupakan kunci islam dan pondasi bangunannya. Makna syahadat la ilaha illallah ialah : tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah saja,dilah ilahi yang hak, sedangkan ilahi selainnya adalah batil dan ilahi itu artinya sesuatu yang disembah. Dan makna syahadat: bahwasanya Muhammad itu adalah Rasulullah ialah: membenarkan semua apa yang diberitakannya, dan mentaati semua perintahnya srta menjauhi semua yang dilarang dan dicegahnya.
Rukun kedua: shalat:Allah telah mengsyari’atkan lima shalat setiap hari sebagai hubungana antara seorang muslim dengan Tuhanya. Didalamnya dia bermunajat dan berdo’a kepada-Nya,disamping agar menjadi pencegah bagi muslim dari perbuatan keji dan mungkar. Dan Alah telah menyiapkan bagi yang menunaikanya kebaikan dalam agama dan kemantapan iman serta ganjaran,baik cepat maupun lambat.Maka  dengan demikian seorang hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kenyamanan raga yang akan membuatnya bahagia di dunia dan akhirat.
Rukun ketiga: Zakat yaitu sedekah yang dibayyar oleh orang yang memiliki harta sampai nishab(kadar tertenrtu) setiap tahun,kepada yang berhak menerimanya seperti kaum fakir dan lainya,diantara yang berhak menerima zakat.Zakat itu tidak di wjibkan atas orang fakir yang tidak memiliki nishab,tapi hanya di wajibkan atas kaum kaya untuk menyempurnakan agama dan islam mereka,meningkatkan kondisi dan akhlak mereka,menolak segala balak dari mereka dan harta mereka,mensuccikan mereka dari dosa,disamping sebagai bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan dan fakir diantara mereka,serta untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka,sementara zakat hanyalah merupakan bagian kecil sekali dari jumlah harta dan rizki yang diberikan Allah kepada mereka.
Rukun keempat: Puasa yaitu selama satu bulan saja setiap tahun,pada bulan ramadhan yang mulia,yakni bulan kesembilan dari bulan-bulan hijriyah.Kaum muslimin secara keseluruhan serempak meninggalkan kebutuhan-kebutuhan pokok mereka,makan,minum,dan jimak di siang hari mulai terbit fajar sampai matahari terbenam.Dan semua itu akan di ganti oleh Allah bagi mereka berkat karunia dan kemurahan-Nya,dengan penyempurnaan agama dan iman mereka,serta peningkatan kesempurnaan diri,dan banyak lagi ganjaran dan kebaikan lainya,baik di dunia maupun di akhirat yang telah di janjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa.
Rukun kelima: Haji yaiu menuju masjidil haram untuk melakukan ibadah tertentu. Allah mewajibkan atas orang yang mampu sekali seumur hidup,Pada waktu itu kaum muslimiin dari segala penjuru berkumpul di tempat yang paling mulia dimuka bumi ini,menyembah tuhan yang satu,memakai pakaian yang sama,tidak ada perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin,antara si kaya dan si fakir dan antara yang berkulit putih dan berkulit hitam.Mereka semua melaksanakan bentuk-bentuk ibadah tertentu,yang terpenting diantaranya adalah: wukuf di padang arafah,tawaf di ka’bah,kiblatnya kaum muslimin,dan sa’i antara bukit shafa dan marwah.
Ihsan
            Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan darin-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata Allah swt. Rasulullah Saw. Pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian terbesar dari keislamannya karena, islam di bangun atas tiga landasan utama, yaitu iman, islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah Saw.dalam haditsnya yang sahih . Hadits ini menceritakan saat Rasulullah Saw. Menjawab pertanyaan malikat jibril – yang menyamar sebagai seorang manusia – mengenai islam, iman, dan ihsan. Setelah jibril pergi, Rasulullah Saw. Bersabda kepada sahabatnya, “ inilah jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebutbut ketiga hal diatas sebagai agama, dan bahkan Allah Swt. Memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-qur’an
.” Dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. “ (Qs Al-baqarah:195)
“ Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan . . . .”(Qs. An-nahl : 90 )
Pengertan ihsan
            Ihsan berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan. Allah Swt. Berfirman dalam Al-qur’an mengenai hal ini.
” Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri . . .”(Al-isra’:7)
“Dan berbuat baiklah (kpd orang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu . . “(Qs AL-Qashash: 77).
Ibnu katsir mengomentari ayat diatas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh mahluk Allah Swt.
Landasan syar’I ihsan
            Pertama Al- qur’anul karim
Dalam Al-qur’an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-qur’an. Berikut ini adalah beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.
“ Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnyaAllah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al- baqarah: 195)
“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan.” (Qs.An-nahl:90)
“. . . . .serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. . . .”(Qs. Al-baqarah:83)
“Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan para hamba sahayamu. . . . “ (Qs. An-nisa’: 36)
            Kedua, As-sunnah
Rasulullah Saw. Pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab,ini merupakan puncak harapan, perjuangan seorang hamba. Bahkan, diantara hadits-hadits mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah Saw. menerangkan mengenai ihsan –Ketika ia menjawab pertanyaan malaikat jibril tentang ihsan, dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh jibril, dengan mengatakan ,” Engkua menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim).
Aspek pokok dalam ihsan
            Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental ketiga aspek tersebut ibadah, muamalah, dan ahklak.
Ibadah
            kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menjalankan semua jenis ibadah, seperti solat, puasa, haji dan sebagainya dengan cara yang benar. Yaitu dengan menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksnaan ibadah-ibadah tersebut ia penuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah selalu memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh Allah. Minimal seorang hamba harus merasa bahwa Allah selalu memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan.inilah maksud dari perkataan Rasulullah Saw. yang berbunyi,
“Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka selain dari jenis ibadah itu tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga seperti ibadah lainnya seperti jihad, menghormati sesame mukmin, mendidik anak, membahagiakan istri, dan menjalankan yang mubah semata-mata demi mencari dan mendapatkan Ridho Allah Swt. dan masih banyak lagi. Rasulullah menghendaki umatnya dalam keadan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ingin ingin mewujudkan ihsan dalam setiap ibadahnya.
Tingkat ibadah dan derajatnya
            Berdasarkan nash-nash dalam Al-qur’an dan sunnah, maka ibadah mempunyai tiga tingkatan, yang pada setiap tingkatan derajatnya seorang hamba tidak akan dapat mengukurnya. Karena itulah kita berlomba-lomba untuk meraihnya, pada setip derajat ada tingkatan tersendiri dalam surga. Yang tertinggi adalah derajat muhsinin, Dan ia akan menempati jannatul firdaus, derajat tertinggi dalam surga. Kelak penghuni surgs tingkat bawah akan memandangi penghunu surga surga tingkat atas, laksana penduduk bumi memandangi bintang-bintang di langit yang menandakan betapa jauhnya jarak antara mereka.
Adapun tiga tingkatan ter sebut adalah sebagai berikut:
  1. Tingkat At-taqwa, yaitu tingkatan paling bawah dengan derajad yang berbeda-beda.
  2. Tingkat Al-bir, yaitu tingkat menengah dengan derajat yang berbeda-beda.
  3. Tingkat Al-ihsan, yaitu tingkat paling atas dengan derajat yang berbeda-beda.
Tingkat taqwa
            Tingkat taqwa adalah tingkatan dimana seluruh derajatnya dihuni oleh mereka yang masuk kategori Al-muttaqin, sesuai dengan derajad ketaqwan masing-masing.
Taqwa akan menjadi sempurna dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi serta meninggalkan segala apa yang dilarangNya, hal ini berarti meninggalkan salah satu perintah Allah saja dapat mengakibatkan sangsi, dan melakukan salah satu laranganNya saja adalah dosa. Dengan demikian puncak taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah serta menjauhi segala laranganNya.
Namun ada satu hal yang harus dipahami dengan benar, yaitu bahwa Allah Swt. Maha mengetahui mengetahui keadaan hamba-hambaNya yang memiliki berbagai kelemahan, yang dengan kelemahannya itu seorang hamba melakukan dosa. Oleh karena itu Allah membuat satu cara penghapusan dosa, yaitu dengan cara bertobat dan pengampunan. Melalui hal tersebut, Allah akan mengampuni hambaNya yang berdosa karena kelalaiannya dari menunaikan hak-hak taqwa. Sementara itu, ketika seorang hamba naik peringkat puncak taqwa, boleh jadi ia akan naik peringkatnya pada peringkat bir atau ihsan. Peringkat ini disebut martabat taqwa, karena amalan-amalan yang ada pada derajat ini membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya. Adapun derajat yang paling rendah dari peringkat ini adalah derajat dimana seseorang  menjaga dirinya dari kekalnya dalam neraka, yaitu dengan iman yang benar dan diterima oleh Allah Swt.
Tingkat Al-bir
            Peringkat ini akan dihuni oleh mereka yang masuk kategoi Al-abror, hal ini sesuai dengan amalan-amalan kebaikan yang mereka lakukan dari ibadah-ibadah sunnah serta segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah Swt. hal ini dilakukan setelah mereka melakukan hal yang wajib, yakni yang ada pada peringkat At-taqwa.
Peringkat ini disebut derajat Al-bir (kebaikan), karena derajat ini merupakan perluasan pada hal-hal yang sifatnya sunnah, sesuai sifatnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merupakan tambahan dari batasan-batasan yang wajib serta yang di haramkanNya. Amalan-amalan ini tidak diwajibkan oleh Allah kepada hambaNya, tetapi perintah itu bersifat anjuran, sekaligus terdapat janji pahala didalamnya.
Akan tetapi mereka yang melakukan amalan tambahan ini tidak akan masuk kedalam tingkatan Al-bir, kecuali mereka telah melaksanakan peringkat yang pertama, yaitu peringkat taqwa. Karena melaksanakan hal yang pertama menjadi syarat mutlak untuk naik keperingkat yang selanjutnya.
Dengan demikian,barang siapa yang mengklaim dirinya telah melakukan kebaikan sedang ia tidak mengimani unsure-unsur kaidaah iman dalam ihsan, serta tidak terhindar dari siksaan neraka , maka ia tidak dapat masuk kedalam peringkat ini. (Al-bir). Allah Swt. telah berfirman,
“Bukanlah kebaikan dengan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaikan itu adalah taqwa, dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya dan bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (Qs. Al-baqarah: 189).
“ya tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan orang yang menyeru kepada iman, yaitu berimanlah kamu kepada tuhanmu, maka kamipun beriman. Ya tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang banyak berbuat baik.” (Al-imran: 193) .

Tingkat ihsan
            Tingkatan ini akan dicapai oleh mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun, mereka adalah orang yang telah melewati tingkat pertama dan kedua (peringkat At-taqwa dan Al-bir).
Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi yaitu : Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keiklasan dan jujur dalam beramal.
Kedua, ihsaan adalah sensntiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah yang dapat mendekat diri kepada Allah Swt. selama hal itu adalah sesuatu yang diridhaiNya dan dianjurkan untuk melaksanakannya.
Untuk dapat naik kemartabat ihsan dalam segala amal , hanya bisa dicapai melalui amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah yang dicintai oleh Allah Swt. serta dilakukan atas dasar mencari ridha Allah Swt.

Selasa, 27 September 2016

Inilah 3 Amalan Hari Asyura Sesuai Dalil Hadist Rasulullah SAW


mtsnberbek.com - Bulan Muharram adalah bulan pertama pada kalender islam. Bulan Muharram juga merupakan salah satu bulan paling utama bagi umat islam di seluruh dunia. Di bulan Muharram ini, kita dianjurkan untuk menjalankan ibadah Puasa Sunah yaitu Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura. (Bacaan Niat Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura yang Jatuh 22-23 Oktober 2015)
Banyak sekali amalan-amalan 10 Muharram/hari asyura di tengah masyarakat yang tidak mempunyai dalil hadist Rasulullah saw dan sangat jauh sekali dari nilai-nilai Islam. Amalan-amalan mungkar tersebut terutama banyak dilakukan oleh Kaum Syiah yang mengadakan upacara berdarah setiap hari asyura. Lalu, apa saja amalan hari asyura yang sesuai dalil hadist Rasulullah Saw ?
1. Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura
Yang berkaitan dengan puasa adalah puasa sunah yaitu pada hari kesepuluh dan kesembilan di bulan itu. Sering juga disebut dengan Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura. Banyak sekali dalil yang menerangkan hal ini, antara lain:
Dari Abu Hurairoh RA ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Shaum yang paling utama setelah shaum Ramadhan adalah shaum dibulan Alloh Muharram. Dan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam” (HR Muslim 1162)
Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi Sufyan RA berkata: “Wahai penduduk Madinah, di mana ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ini hari Assyura, dan Alloh tidak mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka hendaklah ia berbuka” (HR Bukhari 2003)
Rasulullah SAW bersabda: “Shaumlah kalian pada hari ‘Assyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya” (HR Ath-Thahawy dan Al-Baihaqy serta Ibnu Khuzaimah 2095)
Sedangkan amal lainnya –selain puasa dan meluaskan belanja- sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi, adalah amal yang dasar hukumnya lemah.
2. Meluaskan Belanja
Dari hadits Abi Said Al-Khudhri ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Siapa yang meluaskan belanja kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan meluaskan atasnya belanja selama setahun.”
Oleh sebagian ulama hadits, hadits ini dilemahkan, namun sebagian lainnya mengatakan hadits ini shahih, lalu sebagian lainnya mengatakan hasan. Yang menshahihkan di antaranya adalah Zainuddin Al-Iraqi dan Ibnu Nashiruddin. As-Suyuthi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa karena begitu banyaknya jalur periwayatan hadits ini, maka derajat hadits ini menjadi hasan bahkan menjadi shahih.
Sehingga Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya Al-Ikhtiyarat termasuk yang menganjurkan perbuatan ini di hari Asyura.
3. Bersedekah
“Siapa yang puasa hari Asyura, dia seperti puasa setahun. Dan siapa yang bersedekah pada hari itu, dia seperti bersedekah selama setahun.”
Pada hari itu juga disunnahkan untuk bersedekah, menurut kalangan mazhab Malik. Sedangkan mazhab lainnya, tidak ada landasan dalil yang secara khusus menyebutkan hal itu dan kuat derajat haditsnya.Karena mereka mendhaifkan hadits di atas.

Rabu, 17 Agustus 2016

SIFAT WAJIB BAGI ALLAH DAN ROSUL atau'AQO'ID 50


Assalamu'alaikum sahabat yang dirahmati allah.,semoga slalu dalam lindungannya...aamiin...!!

mari belajar sama2 mengenal
'AKO'ID 50 (20 sifat wajib,20 sifat mustahil,1 sifat jaiz bagi allah dan 4 sifat wajib,4 sifat mustahil,1 sifat jaiz bagi allah)

saya ingin berbagi karna ini juga hal yang wajib diketahui oleh setiap muslim..

hukum bagi seorang muslim yang tdk mengetaui'Aqoid 50 tersebut adalah
>>hukumnya berdosa karena meninggalkan kewajiban. apakah batal aqidahnya atau ada penafsilan hukum,??
>>jika tidak tahu dan meyakini sifat yang bertentangan dg sifat 50 itu, maka bisa batal aqidahnya..
>>jika tidak tahu karena belum belajar (dan punya peluang belajar) maka berdosa..
>>orang yang berakal normal secara dhoruri (otomatis tanpa berpikir) akan membenarkan semua sifat 50 itu, tidak harus tahu bahasa arabnya.

diterangkan bahwa ilmu aqoid sebagaimana diterangkan dalam kitab Bajuri dan Jam'ul Jawami'sebagai:
العلم بالعقائد الدينية الاعتقادية اليقينية المكتسب من ادلتها الشرعية
Pengetahuan yang terikat dalam masalah keyakinan keagamaan yang diambil dari dalil-dalil syara'.
Adapun guna mempelajari ilmu aqoid adalah untuk membetulkan dan meneguhkan iman manusia kepada Tuhan Allah Ta'ala. Iman yang benar akan mengesahkan segala amal ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lannya. Dan surga menjadi pahala balasan di akhirat nanti. Namun, jika iman seseorang tidak dalam posisi yang benar, maka semua amal itu akan sia-sia. Dan di akhirat nanti neraka sebagai ganjarannya. Melihat posisi dan guna ilmu aqoid yang begitu pentingnya, maka belajar ilmu aqoid hukumnya fardhu ain. Artinya wajib bagi setiap orang yang berakal untuk mempelajarinya. Ilmu aqoid dinamakan demikian Ilmu aqoid karena pengetahuan ini ber isikan satu bundelan (ikatan) mengenai sahnya iman dan Islam yang jumlahnya 50 , yang terkenal dengan istilah aqoid seket. Dengan perincian 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah, 4 sifat wajib bagi Rasul, 4 mustahil bagi Rasul dan 1 sifat jaiz bagi rosul. Semuanya itu terkandung di dalam kalimah La Ilaha Illallah.

Ilmu aqoid juga disebut ilmu ushuluddin, yaitu ilmu mengenai pokoknya agama. Karena itu barang siapapun orangnya beribadah siang malam, tetapi tidak memiliki pengetahuan ilmu ini, maka ibadah itu dianggap tidak sah. Selain itu, ilmu ini juga disebut dengan ilmu kalam (ilmu bicara), karena siapapun tidak akan dapat memahami ilmu aqoid ini secara benar, apabila belum dibicarakan dengan panjang lebar dan penuh perhatian. Bahkan perlu digaris bawahi bahwa memahami ilmu aqoid ini tidak cukup dengan membaca buku saja tetapi harus melalui seorang guru (digurukan). Demikian diterangkan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah dalam Majalah Oetusan Nahdlatul Oelama. Adapun mengenai medan pembahasan ilmu aqoid akan diterangkan menyusul. Penulisan kembali ini tentunya disertai perubahan edjaan dan gaya bahasa yang berlaku sekarang untuk mempermudah pemahaman. Sumber: Oetusan Nahdlatul Oelama, No1 . Tahun ke.1. (Redaktur: Ulil Hadrawy)
[p.kiyai ANSORI DAHLAN]

Wajib bagi orang mukallaf (orang yang terbebani hukum Syariat) mengetahui sifat-sifat Allah Ta'ala sifat :
1.wajib yaitu tidak tergambar atau terfikirkan dalam akal seseorang tidak adanya sifat wajib itu,
2.sifat mustahil bagi Allah yaitu tidak tergambar atau terfikirkan dalam akal seseorang adanya sifat mustahil itu.
3.dan sifat jaiz yaitu dibenarkan dalam akal seseorang adanya dan tidak adanya sifat Allh tersebut. Begitu pula wajib bagi seorang mukallaf mengetahui hal yang serupa sifat yang ada pada para Rosul Alaihi Sholatu Wassalam.

SIFAT WAJIB BAGI ALLAH :

1. SIFAT WUJUD (ada)
pengertiannya tetapnya sesuatu dan pasti adanya, sifat wujud ini wajib bagi Allah Ta'ala Dzatnya bukan Illat (Pengaruh Luar) maksudnya bahwa selain Allah (Makhluk) tidak dapat mempengaruhi adanya Allah. Adapun sifat wujud tanpa Dzat itu terjadi seperti keberadaan kita yaitu melalui perbuatan Allah Ta'ala. Adapun bukti adanya Allah yaitu adanya makhluk ini, jika Allah SWT tidak ada, maka tidak akan ada satu makhlukpun. Hendaklah meyakini bahwa Allah itu ada, dan keberadaanNya DzatNya itu ada dengan sendirinya tanpa memerlukan wasilah atau perantara Dan meyakini bahwa keberadaanNya itu wajib adanya, tidak mungkin Dia pernah tiada
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إله إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
INNANI ANALLAHU LAILAHA ILLA ANA FA'BUDNII WA AQIMISH SHOLATA LIDZIKRII
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingatku". (QS. Thaha : 14)
dan juga dalam firman Allah Ta'ala,
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ ۗمَا خَلَقَ الَّلَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۗوَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ
AWWALAM YATAFAKKARU FII ANFUSIHIM MAA KHOLAQOLLAHUS SAMAWATI WAL ARDHO WAMAA BAYNAHUMAA ILLA BILKHAQQI WA AJALIM MUSAMMA WA INNA KATSIROM MINAN NASI BILIQOO I ROBBIHIM LAKAA FIRUUN
"Tidaklah mereka memikirkan tentang kejadian diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan kebenaran dan waktu yang ditetapkan. Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya". (QS. Ar Rum :8)

Ada seorang badui ditanya tentang bukti adanya Allah. Dia menjawab : kotoran unta itu menunjukkan adanya unta dan kotoran hewan (teletong : jawa) menunjukkan adanya hewan keledai dan bekas kaki itu menunjukkan adanya orang yang berjalan, maka langit itu mempunyai bintang dan bumi mempunyai jalan yang terbentang dan laut mempunyai ombak yang bergelombang, apakah semua itu tidak menunjukkan atas adanya pencipta yang bijak, lagi Maha Berkuasa dan Maha Mengetahui?.

2.SIFAT QIDAM (dahulu)
adalah tidak ada permulaan pada wujudnya Allah Ta'ala maksudnya bahwa Allah Ta'ala tidak mempunyai permulaannya karena Alloh Dzat yang agung, pencipta alam semesta dan pencipta makhluk yang ada, maka sudah pasti Allah yang mendahuluinya. Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah itu Maha Dahulu adaNya,yakni Allah itu ada sebelum adanya sesuatu selainNya,dan bahwasanya Dia tidak terikat waktu dan keberadaanNya tanpa awal

Allah Ta'ala berfirman
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖوَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
HUWAL AWALU WAL AKHIRU WADHOHIRU WAL BATHINU WAHUWA BIKULLI SYAY IN'ALIMI
"Dialah Allh yang Awal, yang Akhir,yang Dhohir dan yang Bathin dan dia maha mengetahui segala sesuatu". (QS. Ql Hadid : 3)

3.SIFAT BAQA'(kekal)
adalah tidak ada pengakhiran pada wujudnya Allah bahwa Allah Ta'ala senantiasa ada tanpa ada ujung dan senantiasa kekal tanpa ada akhirannya. Hendaklah meyakini bahwasanya Allah itu Dzat yg kekal abadi dan kekekalanNya tersebut tanpa batas akhir . Dan hendaklah meyakini bahwasanya Dia tidak pernah berubah sama sekali serta Dia tidak pernah bersifat tiada pada waktu tertentu(kekekalanNya tidak terikat ruang dan waktu)

Allah Ta'ala berfirman
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَيِّ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
KULLU MAN'ALAIHA FAAN WAYABQO WAJHU ROBBIKA DZULJALALI WAL IKROM
"Semua yang ada dibumi ini akan binasa dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai keagungan dan kemuliaan". (QS. Ar Rohman : 26-27).

Allah Ta'ala berfirman :
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
KULLU SYAI IN HAALIKA ILLA WAJHAHU LAHUL KHUKMU WA ILAIHI TURJA'UN
"Setiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah. BagiNya sesuatu itu ditentukan dan padaNya pula kamu semua kembali". (QS. Al Qoshos :88)

4.SIFAT MUKHOLAFATUHU LILKHAWADITSI (Berbeda dengan segala hal yg baru / makhluk)
adalah tidak ada makhluk yang menyamai/menyerupainya Allah SWT.
Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah tidak menyerupai sesuatu pun, baik DzatNya, sifatNya maupun perbuatanNya

yakinilah bahwasanya Dzat Allah itu tidaklah sama dengan makhluk ciptaanNya, berupa wajah misalnya. Segala hal yang kita lihat atau bayangkan dalam hati maka Allah tidaklah seperti bayangan tersebut .

Allah Ta'ala berfirman,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖوَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
LAISA KAMITSLIHI SYAI'UN WAHUWAS SAMII'UL BASHIIR
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat". (QS. As Syuro ; 11).

Allah Ta'ala berfirman,
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
WALAM YAKULLAHU KUFUWAN AKHAD
"Tidak ada seorangpun yang setara dengannya". (QS. Al Ikhlas:4)

yakini juga bhwa sifat allah itu berbeda dengan makhluqnya.. Sifat'ilmu (pengetahuan) kita tidak sama dengan pengetahuan Allah, Qudrah (Kekuasaan) kita tidak sama dengan kekuasaan Allah, Iradah (kehendak) kita tidak sama dengan kehendak Allah, Hayah (sifat hidup) kita tidak sama dengan sifat hidupnya Allah, sifat mendengar (Sama') kita tidak sama dengan sifat mendengar Allah, Bashar (sifat melihat) kita tidak sama dengan pendengaran Allah dan Kalam (sifat berbicara) kita tidak sama dengan sifat kalam Allah

Hendaklah kita juga meyakini bahwasanya perbuatan Allah Subhanahu Wata'ala tidak serupa dengan perbuatan makhluqNya, karena Dia dalam berbuat sesuatu tidak membutuhkan perantara maupun alat
Firman Allah dalam surat yasin Ayat 82 : Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:"Jadilah!"maka terjadilah ia.

Dan hendaklah meyakini, bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tidak berarti karena Dia membutuhkannya. Juga kita harus meyakini bahwa Dia tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia atau tanpa guna, karena Dia bersifat Maha Bijaksana.

5.SIFAT QIYAMUHU BINAFSIHI (Mandiri dan tidak membutuhkan yg lain)
adalah bahwa Allah tidak butuh pada tempat yang menetap padanya atau tempat yang ditempatinya atau pencipta yang mewujudkannya. Tetapi Dia Maha Kaya [tidak butuh] dari segala sesuatu selainnya (makhluk). Dan sesungguhnya segala sesuatu lah yang membutuhkan Allah Subhaanahu Wata'ala

Allah Ta'ala berfirman,
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ ۖوَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
W'ANATIL WUJUHU LILKHAYYIL QOYYUMI WAQOD KHOBA MAN KHAMALA DHULMAN
"Dan tunduklah semua muka(dengan merendah diri) kepada tuhan yang hidup kekal lagi senantiasa mengurus (makhluknya),dan sesungguhnya tlah rugilah orang yg melakukan kedholiman". (QS. Thoha : 111 ).

Dan Allah Ta'ala juga berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى ‎ ‎الله وَالله هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ‎
YA AYYUHAN NASU ANTUMUL FUQORO U WALLAHU HUWAL GHONIYYUL KHADIID
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS. Faathir : 15).

Dan Allah Ta'ala berfirman,
وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ الَّلَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
WAMAN JAAHADA FA INNAMAAM YUJA DIDU LINAFSIHI INNALLAHA LAGHOOIYYUN'ANIL'ALAMIIN
Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Al Ankabut : 6)

6.SIFAT WAHDANIYAH (maha esa)
adalah tidak terhitung dalam Dzatnya, sifatnya, dan perbuatannya. Dan pengertian Esa Dzat AllAh itu tidak tersusun dari bagian-bagian dan Dia tidak bersekutu dalam kerajaanNya.Pengertian Esa sifatnya adalah bahwa tidak satupun (makhluk) bersifat seperti sifatnya Allah. Dan pengertian Esa dalam perbuatan adalah bahwa tidak satupun (makhluk) berbuat seperti perbuatan Allah Ta'ala. Maka Allah adalah pencipta segala sesuatu dan pembuat segala sesuatu. Maka Allah Ta'ala berdiri sendiri (independen) dalam penciptaanya dan pembuatannya (sesuatu yang baru). Hendaklah kita yakini bahwasanya Allah itu Satu dan tidak memiliki teman atau sekutu. Tidak ada yg menyamai maupun menyerupaiNya Tiada lawan yg sebanding maupun penggantiNya

Allah Ta'ala berfirman,
لَوْ أَرَادَ الله أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَ مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ سُبْحَانَهُ هُوَ الله الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
LAW AROODALLAHU AYYAT TAKHIDZA WALADAL LASH TOFA MIMMAA YAKHLUQU MAA YASAAA',SUBKHANAHU HUWALLAHUL WAKHIDUL QOHHAAAR
Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dia-lah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (QS. Az Zumar : 4 )

dan Allah Ta'ala berfirman,
WA ILA HUKUM ILAHUW WAKHID LAILAHA ILLA HUWAR ROKHMANUR ROKHIM
Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al Baqoroh : 163).

Dan Alloh ta'ala berfirman,
QUL HUWALLAHU AHAD
"Katakanlah bahwa Allah itu Esa"(QS. Al Ikhlas :1).

Dan Allah Ta'ala berfirman,
مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ ۚإِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚسُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
MAT TAKHODZALLAHU MIN WALADIN WAMAA KAANA MA'AHU MIN ILAHIN IDZAL LADZAHABA KULLU ILAHIN BIMAA KHOLAQO WALA'ALAA BA'DLUHUM'ALAA B'DLIN SUBKHAANALLAHU'AMMAA YUSHIFUUN
Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (QS. Al Mukminun : 91).

7.SIFAT QUDROH (berkuasa)
adalah sifat Qodim yang menetap pada Dzat Alloh Ta'ala dalam menciptakan (sesuatu) dan meniadakan (sesuatu). Hendaklah kita meyakini bahwa Allah itu memiliki sifat Maha Kuasa dan bahwasanya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Allah Ta'ala berfirman,"Sesungguhnya Allah itu maha kuasa atas segala sesuatu"(QS. An Nur :45 )

dan Allah Ta'ala berfirman,
"Tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik dilangit maupun dibumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa"(QS. Faathir : 44)

8.SIFAT IRODAH (berkehendak)
adalah sifat Qodim yang menetap pada Dzat Alloh Ta'ala. Sifat Irodah ini khusus terjadi pada hal-hal yang bisa terjadi pada setiap sesuatu yang boleh terjadi. Dengan demikian Alloh SWT mengatur alam semesta ini menurut keinginan, kehendak dan ketentuan- ketentuanNya. Maka Alloh Ta'ala menjadikan sesuatu ini panjang, pendek,baik dan buruk, alim atau bodoh pada tempat ini dan lainnya.

Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
INNAMA QOWLUNAA LISYAI IN IDZA ARODNAAHU AN NAQUULA LAHU KUN FAYAKUUN
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya:"Kun (jadilah)", maka jadilah ia. (QS. An Nahl ; 40).

Allah Ta'ala berfirman,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗمَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚسُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
WAROB BUKA YAKHLUQU MAA YASYAAU WAYAKHTAARU MAA KAANA LAHUMUL KHIYAROTU SUBKHAANALLAHI WATA'ALA'AMMA YUSYRIKUN
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (QS. Al Qashas : 68).

Allah Ta'ala berfirman,
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖبِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖإِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
QULILLAHUMMA MALIKAL MULKI TU'TIL MULKA MAN TASYAAA'U WATANZI'UL MULKA MIMMAN TASYAA'U WATU'AZ ZIMAN TASYAA'U WATUDZIL LUMAN TASYAA'U BIYADIKAL KHOIRU INNAKA'ALA KULLI SYAI IN QODIIR.
Katakanlah:"Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran : 26).

Allah Ta'ala berfirman,
"Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang dia kehendaki dan memberikan anak-anak laki-laki kepada siapa yang dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa". (QS. Asy Syuura : 94 - 50)

9.SIFAT ILMU (mengetahui)
adalah sifat Qodim yang menetap pada Dzat Alloh Ta'ala dalam mengetahui segala sesuatu. kita harus meyakini bahwasanya Allah itu memiliki sifat Maha Berpengetahuan dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu Mengetahui segala hal,baik yang tampak maupun yg tidak . Dia mengetahui jumlah pasir,tetes air hujan maupun daun pepohonan. Dia Mengetahui hal yg rahasia maupun yg jelas . Tidak ada yg bisa bersembunyi dari Nya . Dan hendaklah kita meyakini bahwasanya pengetahuan Allah itu tidak membutuhkan usaha meraihnya, namun pengetahuan Allah akan segala sesuatu itu telah ada sejak zaman azali sebelum sesuatu itu ada.

Allah Ta'ala berfirman,
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖمَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
ALAM TARO ANNALLAHA YA'LAMU MAA FIS SAMAAWAATI WAL ARDHI MAA YAKUUNU MIN NAJWA TSALATSATIN ILLA HUWA ROBBUHUM WALAA KHOMSATIN ILLA HUWA SAADISUHUM WALAA ADNA MIN DZALIKA WALAA AKTSARO ILLA HUWA MA'AHUM AINAMA KANUU TSUMMA YUNAB BI UHUM BIMAA'AMILUU YAUMAL QIYAMATI INNALLAHA BIKULLI SYAI IN'ALIM
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Mujadilah : 7)

dan Allah Ta'ala berfirman,
الَّلَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ الَّلَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ الَّلَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
ALLAHUL LADZII KHOLAQO SAB'A SAMAAWAATI WAMINAL ARDHI MITSLAHUNNA YATANAZZALUL AMRU BAINA HUNNA LITA'LAMUU ANNALLAHA'ALAA KULLI SYAI IN QODIR.,WA ANNALLAHA QOD AKHAATO BIKULLI SYAI IN'ILMAA
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. Ath- Thalaq : 12)

dan Allah Ta'ala berfirman,
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚوَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚوَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
WA'INDAHU MAFAATIKHUL GHOIBI LAA YA'LAMUHA ILLA HUWA WA YA'LAMU MAA FIL BARRI WAL BAKHRI WAMAA TASQUTHU MIN WAROQOTIN ILLA YA'LAMUHA WALAA KHABBATIN FI DHULUMAATIL ARDHI WALAA ROTHBIN WALLA YAA BISIN ILLA FII KITABIM MUBIINA
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Al An'am : 59 ).

Allah Ta'ala berfirman,"Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan kami lebih dekat dari pada urat lehernya"(QS. Qaaf : 16)

10.SIFAT HAYAT (Hidup)
adalah sifat Qodim yang menetap pada Dzat Allah Ta'ala. Sifat berkuasa, berkehendak, ilmu, mendengar, melihat dan berbicara. Maka jika Allah itu tidak hidup,maka sifat- sifat tersebut tidak akan tetap (ada). Hendaklah juga kita meyakini bahwasanya Allah Subhaanahu Wata'ala Maha Hidup dan bahwa kehidupan Allah tidak seperti hidup kita Karena sesungguhnya kehidupan kita membutuhkan perantara seperti mengalirnya darah dan nafas sedangkan kehidupan Allah tanpa memerlukan apapun . Kehidupan Allah itu bersifat dahulu (Qodim),kekal (Baqo') dan kehidupanNya tiada pernah hilang maupun berubah sama sekali.

Allah Ta'ala berfirman,
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚوَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا
WATAWAKKAL'ALAL KHAYYIL LADZI LAYAMUUTU WASABBIKH BIKHAMDIHI WAKAFA BIHI BIDZUNUUBI'IBAADIHI KHOBIIRO
Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa Maha Mengetahui dosa- dosa hamba-hamba-Nya, (QS. Al- Furqon : 58 )

11.SIFAT SAMA'(mendengar)
Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah itu bersifat Maha Mendengar dan sesungguhnya Allah mendengar segala sesuatu baik nampak atau pun yg tersembunyi . Namun, pendengaran Allah Subhanaahu Wata'ala tidak seperti pendengaran kita , karena pendengaran kita sebagai makhluk memerlukan alat perantara berupa telinga sedangkan pendengaran Allah tanpa memerlukan perantara apapun.

12.SIFAT BASHOR (Melihat)
Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah itu bersifat Maha Melihat,dan Dia Maha Melihat atas segala sesuatu. Dia Maha Melihat hingga semut hitam kecil berjalan di malam gelap gulita sekalipun, bahkan yg lebih kecil dari itu (atom) . Tidak ada yg dapat bersembunyi dari penglihatan Allah, baik yg ada di bumi maupun di luarnya, baik yg ada di langit maupun di luarnya. Namun, penglihatan Allah berbeda dengan kita sebagai makhluk. Sesungguhnya penglihatan kita membutuhkan perantara yakni mata,sedangkan penglihatan Allah tanpa membutuhkan alat perantara.

sifat sama'dan bashor keduanya adalah sifat yang menetap pada Dzat Alloh Ta'ala yang dapat menyingkap (membuka) sesuatu yang ada. Maka Alloh Ta'ala Maha Mendengar segala sesuatu hingga mampu mendengar jalannya semut dipadang pasir yang hitam dimalam yang gelap dan Maha Melihat segala sesuatu yang tampak secara keseluruhan yang meliputi segala yang tampak (dapat ditemukan).

Allah Ta'ala berfirman,
قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
QOD SAMI'ALLAHU QOWLAL LATII TUJAA DILUKA FII ZAUJIHA WATASTAKII ILALLAHI WALLAHU YASMA'U TAHA WIROKUMAA INNALLAHA SAMI'UM BASHIR
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al Mujadilah : 1)

Allah berfirman,
اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَىٰ قَالَ لَا تَخَافَا ۖإِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ
IDZHABAA ILA FIR'AWNA INNAHU THOGHO,FAQUULAA LAHU QOWLAL LAYYINAL LA'ALLAHU YATADZAK KARU AW YAHSYA.,QOLAA ROBBANA INNANA NAKHOFU AYYAFRUTHO'ALAINAA AW AYYADH GHO,QOLA LAA TAKHOFAA INNANII MA'AKUMAA ASMA'U WA ARO
Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut."Berkatalah mereka berdua:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas Allah berfirman:"Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat (QS. Thaha : 43-46).

13.SIFAT KALAM (berbicara)
kalam adalah sifat Qodim yang menetap pada Dzat Alloh Ta'ala bukan berupa huruf atau bukan berupa suara yang menunjukkan pada seluruh maklumat. Hendaklah kita meyakini bahwa Allah itu bersifat Maha Berbicara. Akan tetapi kalam Allah tidak sama dengan kita sebagai makhluk Nya Sesungguhnya pembicaraan kita diciptakan dalam diri kita dan membutuhkan alat perantara berupa mulut, lidah serta kedua bibir Sedangkan Kalam Allah tidak seperti itu (tidak butuh alat perantara)

Allah Ta'ala berfirman,
وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚوَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
WAROSULAN QOD QOSHOSHNAAHUM'ALAIKA MIN QOBLU WA ROSULAL LAM NAQSHUSH HUM'ALAIKA WAKALLAMALLAHU MUSA TAKLIIMAA
Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. An Nisa :164)

Dan Allah Ta'ala berfirman,
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ الَّلَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚإِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
WAMA KANA LIBASYARIN AYYUKAL LIMAHULLAHU ILLA WAKHYAN AW MIW WAROO'I KHIJABIN AWYURSILU ROSULAN FAYUUKHIYA BI'IDZNIHI MAA YASYAA'U INNAHU'ALIYYUN KHAKIIM
Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (QS. Asy-Syura : 51).

Dan jika Allah Ta'ala mempunyai sifat berkuasa, berkehendak, berilmu, hidup, mendengar, melihat, dan berbicara maka secara otomatis Alloh Ta'ala mempunyai sifat-sifat berikut :
14.Kaunuhu qaadiran Keadaan-Nya yang berkuasa
15.Kaunuhu muriidan Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan
16.Kaunuhu'aliman Keadaan-Nya yang mengetahui
17.Kaunuhu hayyan Keadaan-Nya yang hidup
18.Kaunuhu sami'an Keadaan-Nya yang mendengar
19.Kaunuhu bashiiran Keadaan-Nya yang melihat
20.Kaunuhu mutakalliman Keadaan-Nya yang berbicara

Sifat-sifat 20 di atas terbagi menjadi 4 yaitu :

(1).SIFAT NAFSIYAH :
Sifat Nafsiyyah adalah Sifat yang menetetapkan adanya Allah dan menunjukkan kepada ZatNya Allah tanpa ada sesuatu tambahan pada Zat.
Maksud sifat yang tetap adalah : Adanya sifat tersebut pada Zat Allah yang menunjukkan Allah itu ada, bukan seperti sifat salbiyah, sebab sifat salbiyyah tidak tetap pada Zat, tetapi hanya menolak sifat-sifat yang tidak patut dan layak kepada ZatNya Allah s.w.t. Dan maksud tanpa ada sesuatu tambahan pada Zat adalah : Sifat Nafsiyyah ini bukanlah tambahan pada Zat, Sifat Nafsiyyah tidak seperti sifat Ma`ani yang mana sifat Ma`ani tambahan dari ZatNya.
Adapun sifat Nafsiyyah adalah sifat WujudNya Allah s.w.t, dengan maksud bahwa wujudnya Allah itu adalah tetap pada ZatNya Allah dan bukan tambahan dari Zat Allah. Sifat nafsiyah itu ada satu yaitu sifat wujud Maka wajib Allah bersifat Wujud,mustahil bersifat bahwa Allah tidak ada

(2).SIFAT SALBIYAH :
Sifat Salabiyyah adalah sifat yang menolak segala sifat-sifat yang tidak layak dan patut bagi Allah s.w.t, sebab Allah Maha sempurna dan tidak memiliki kekurangan.

Sifat salbiyah itu ada 5 yaitu :
1.Qidam
2.Baqa'
3.Mukholafatuhu Lilhawaditsi
4.Qiyamuhu binafsihi
5.Wahdaniyah.

(3).SIFAT MA'ANI :
Sifat Ma`ani adalah sifat yang keberadaannya berdiri pada Zat Allah s.w.t yang wajib baginya hukum.

Sifat Ma'ani itu ada 7 yaitu :
1.sifat berkuasa
2.berkehendak
3.berilmu
4.hidup
5.mendengar
6.melihat
7.berbicara.

(4)SIFAT MA'NAWIYYAH
Sifat Ma`nawiyah adalah sifat- sifat yang melazimi dari sifat Ma`ani, dengan kata lain sifat Ma`nawiyah adalah sifat yang wujud disebabkan adanya sifat Ma`ani, seperti Allah memiliki sifat kuasa, maka lazimlah Allah itu keadaannya Kuasa.

Sifat Ma`nawiyah terdiri dari tujuh sifat :
1.Kaunuhu Qaadiran
2.Kaunuhu Muridan
3.Kaunuhu `Aliman
4.Kaunuhu Hayyan
5.kaunuhu Sami`an
6.Kaunuhu Bashiran
7.kaunuhu Mutakalliman.

Adapun hikmah menyebut sifat- sifat Ma'nawiyah yang terkandung dalam sifat ma'ani tersebut adalah sebagai berikut :
1. Aqidah diterangkan dengan cara terperinci,karena pemikiran bodoh dalam masalah aqidah adalah masalah benar.
2. Mengcounter (menjawab) orang-orang mu'tazilah yang mengingkari sifat-sifat ma'nawiyah.

Mereka berpendapat bahwa Allah Ta'ala Maha berkuasa dengan Dzatnya,berkehendak dengan Dzatnya tanpa ada kekuasaan,dan kehendak dan sifat-sifat lainnya. Mereka bermaksud mengingkari sifat-sifat itu untuk mensucikan Alloh Ta'ala.

Mereka berpendapat : Kami mensifati Allah Ta'ala dengan sifat-sifat itu baik sifat itu hadits (baru) atau sifat-sifat itu qodim. Jika sifat-sifat itu hadits maka sifat-sifat itu menempati Allah Ta'ala. Atau jika sifat-sifat itu Qodim maka sifat-sifat qodim itu berbilang (banyak) maka hal itu mentiadakan sifat wahdaniyah (Esa).

Dan menjawab hal itu kami berpendapat : Sesungguhnya sifat-sifat tersebut tidak berdiri sendiri dari DzatNya,hanya saja sifat-sifat itu mengikuti DzatNya yaitu sifat- sifat yang ada itu menempati DzatNya.

SIFAT JAIZ BAGI ALLAH SWT

Sifat Jaiz bagi Allah Ta'ala adalah boleh bagi Allah mengerjakan atau meninggalkan sesuatu, maka wajib bagi seorang mukallaf meyakini bahwa Alloh Ta'ala boleh menciptakan dan memilih hambaNya menurut kehendaknya,dan tidak sesuatupun (makhluknya) yang mewajibkan Allah. Karena Allah adalah pengatur secara mutlak,tidak ada seorangpun memilih bersamaNya karena seluruh urusan (hal) itu berada ditanganNya baik perkara baik atau buruk. Maka Dialah (Allah) yang memberi,mencegah,memuliakan,menghinakan,memberi manfaat,memberi madhorot,mengampuni,menyiksa,menetapkan (hukum) dan memberi sangsi dan begitu seterusnya.

Allah Ta'ala berfirman,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗمَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚسُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
WAROB BUKA YAKHLUQU MAA YASYAAU WAYAKHTAARU MAA KAANA LAHUMUL KHIYAROTU SUBKHAANALLAHI WATA'ALA'AMMA YUSYRIKUN
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (QS. Al Qashas : 68).

Allah Ta'ala berfirman,
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖبِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖإِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
QULILLAHUMMA MALIKAL MULKI TU'TIL MULKA MAN TASYAAA'U WATANZI'UL MULKA MIMMAN TASYAA'U WATU'AZ ZIMAN TASYAA'U WATUDZIL LUMAN TASYAA'U BIYADIKAL KHOIRU INNAKA'ALA KULLI SYAI IN QODIIR.
Katakanlah:"Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran : 26).

"Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada dilangit dan apa yang ada didalam hatimu atau kamu menyembunyikannya niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu atas perbuatanmu itu. Maka Allah akan mengampuni siapa yang dikehendakiNya dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu"(QS. Al Baqarah : 284)

SIFAT WAJIB,MUSTAHIL DAN SIFAT JAIZ BAGI NABI DAN ROSUL

Wajib bagi seorang mukallaf meyakini bahwa Alloh Ta'ala mempunyai para Nabi yang diutus.

Sebagaimana para malaikat, yang selalu patuh kepada perintah Allah, dan tidak pernah sekalipun melanggar larangan Allah, maka para nabi dan rasul Allah juga demikian. Mereka adalah orang- orang yang dijaga Allah dari perbuatan yang dapat mendatangkan dosa. Para nabi dan Rasul adalah orang yang selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah telah menjaga para nabi dan rasul dari terjerumus ke dalam perbuatan dosa, sejak mereka baru lahir, begitu pula setelah diangkat menjadi nabi dan rasul.
Telah diyakini bahwa para rasul yang diutus Allah, mereka adalah laki laki merdeka yang telah dipilih dengan sempurna dan dilengkapi dengan keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk biasa. Begitu pula telah diberikan kepada mereka sifat-sifat kesempurnaan dengan tujuan untuk menguatkan risalah yang dibawa. Maka Allah telah menganugerahkan kepada mereka empat sifat kesempurnaan, yang wajib dimiliki oleh seorang rasul, yaitu Shidiq (Jujur), Amanah (dipercaya), Tabligh (menyampaikan) dan Fathanah (cerdas).

Allah Ta'ala berfirman"Rosul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya. Demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Alloh, malaikat - malaikatNya, kitab-kitabNya dan Rosul-rosulNya. (Mereka mengatakan) Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang dari rosul-rosulNya dan mereka mengatakan,"Kami mendengar dan kami taati, (mereka berdo'a) Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepadaMulah tempat kembali"(QS. Al Baqarah : 285).

Wajib bagi seorang mukallaf mengetahui sifat wajib, sifat mustahil den sifat jaiz bagi Rosul. Adapun sifat wajib bagi Rosul ada 4 yaitu :

1.SIFAT SHIDDIQ (benar/jujur):
Setiap rasul pasti benar dalam ucapan dan perbuatannya. Apa apa yang telah disampaikan kepada manusia baik berupa wahyu atau kabar harus sesuai dengan apa yang telah diterima dari Allah tidak boleh dilebihkan atau dikurangkan. Dalam arti lain apa yang disampaikan kepada manusia pasti benar adanya, karena memang bersumber dari Allah. Makanya setiap rasul pasti benar dalam pengakuan atas kerasulannya. Dan kita sebagai manusia harus meyakinkanya dan beri'tikad bahwa semua yang datang dari Rasul baik perkataan atau perbuatan adalah benar dan hak. Karena apa yang diucapkan atau diperbuat oleh para rasul bukan menurut kemauannya sendiri. Ucapan dan perbuatannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan atau risalah yang diterima dari Allah.

Sebagai bukti atas kebenaran para rasul, mereka telah dibekali dengan mukjizat mukjizat yang harus diyakini oleh setiap muslim kebenaranya. Dan tidak mungkin harus diyakini dan diteladani jika mereka (para rasul) itu tidak benar dan jujur. Tentu setelah itu apa yang telah diperintahkan Allah melalui perantaraan para rasul, kita sebagai muslim harus mengikuti dengan ta'at dan apa yang dilarang Allah kita tinggalkan.

allah ta'ala berfirman
وَمَآ آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواْ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah,"(al- Hasyr, 7)

"Dan benarlah Rosul-rosulNya". (QS. Yaasin : 52).

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Nabi Ismail di dalam Al Qur'an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rosul dan Nabi"(QS.Maryam : 54).

Karena mereka (para Rosul) jika sifat bohong itu boleh pada diri mereka maka kebohongan itu ada pada kabar (risalah) Alloh Ta'ala dan hal itu tidak mungkin terjadi.

2.SIFAT AMANAH (dapat dipercaya):
Amanah berarti bisa dipercaya baik dhahir atau bathin. Sedangkan yang dimaksud di sini bahwa setiap rasul adalah dapat dipercaya dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Para rasul akan terjaga secara dhahir atau bathin dari melakukan perbuatan yang dilarang dalam agama, begitu pula hal yang melanggar etika.

allah berfirman
إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
"Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,"(asy-syuara'143)

Maka hal yang muhal atau mustahil jika rasul itu terjerumus ke dalam perzinahan, pencurian, meminum minutan keras, berdusta, menipu dan lain sebagainya. Rasul tidak mungkin memiliki sifat hasud, riya', sombong, dusta dan sebagainya.

allah berfirman :"Sesungguhnya Aku bagimu adalah utusan Alloh yang dapat dipercaya"(QS.Ad Dukhan : 18).

allah berfirman
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الخَائِنِينَ
‎"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berkhianat."(al-Anfal, 58)

Karena jika mereka berkhianat dengan melakukan perbuatan yang haram atau makruh maka kita tidak dapat merubah/mengganti perbuatan haram dan makruh karma takut pada mereka (para Rosul). Alloh Ta'ala memerintahkan kita untuk mengikuti mereka baik ucapan, perbuatan den keadaan (sikapnya).

3.SIFAT TABLIGH (menyampaikan)
Sudah menjadi kewajiban para rasul untuk menyampaikan kepada manusia apa yang diterima dari Allah berupa wahyu yang menyangkut didalamnya hukum hukum agama. Jika Allah memerintahkan para rasul untuk menyampaikan wahyu kepada manusia, maka wajib bagi manusia untuk menerima apa yang telah disampaikan dengan keyakinan yang kuat sebagai bukti atau saksi akan kebenaran wahyu itu.

allah berfirman
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاَتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَداً إِلاَّ اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيباً
Allah berfirman,"(yaitu) orang- orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan."(al-Ahzab, 39).

adalah firman Alloh Ta'ala"Hai Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan jika tidak kamu kerjakan maka kamu tidak menyampaikan amanatNya (risalahNya)"(QS. Al Maidah : 67).

"Selaku para Rosul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Alloh sesudah diutusnya para Rosul itu"(QS.An Nisa : 165).

Kabar gembira dan peringatan itu tidak sempurna kecuali bila disampaikan. Karena jika mereka tidak menyampaikan syariat kepada manusia maka mereka berarti menyembunyikan syariat. Dan hal itu tidak mungkin terjadi karena menyembunyikan syariat merupakan aib/cacat yang besar. Yaitu ketika orang yang teledor dalam bersyariat memiliki alasan untuk membantah Alloh SWT atas dasar tidak adanya tabligh.

4.SIFAT FATHONAH (cerdas)
Dalam menyampaikan risalah Allah, tentu dibutuhkan kemampuan dan strategi khusus agar wahyu yang tersimpan didalamnya hukum hukum Allah dan risalah yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh manusia. Karena itu, seorang rasul wajib memiliki sifat cerdas. Kecerdasan ini sangat berfungsi terutama dalam menghadapi orang-orang yang membangkang dan menolak ajaran Islam.

Maka diharuskan bagi kita untuk meyakinkan bahwa para rasul itu adalah manusia yang paling sempurna dalam penampilan, akal, kekuatan berfikir, kecerdasan dan pembawaan wahyu yang diutus pada zamannya. Kalau saja para rasul itu tidak sesuai dengas sifat sifatnya maka mustahil manusia akan menerima dan mengakuinya. Sifat sifat itu merupakan satu hujjah bagi mereka agar apa yang disampaikan bisa diterima dengan baik.

Allah berfirman
وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ آتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ
Allah berfirman:"Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya."(al-An'am, 83)

jika sifat fathonah itu tidak ada pada diri Rosul maka mereka (para Rosul tidak mampu berhujjah dalam berargumentasi, dan hal itu tidak mengkin terjadi, karena Al Qur'an menunjukkan mengenai kemampuan para Rosul berargumentasi itu banyak sekali.

"Mereka berkata, Hai Nuh sesungguhnya kamu telah berargumentassi dengan kami, dan kamu lelah memperpanjang berargumentasi terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar"(QS. Hud : 32).

"Dan berargumentasilah pada mereka dengan cara yang baik"(QS. An Nahl : 125).

Dan juga kita diperintahkan mengikuti jejaknya dan orang yang mengikuti jejaknya tidak akan menjadi orang bodoh.

DAN SIFAT JAIZ BAGI PARA NABI DAN ROSUL

pada haknya para Nabi dan Rosul Alaihi Sholatu Wassalam adalah adanya sifat- sifat (yang bisa terjadi) pada manusia yanag tidak menyebabkan terjadinya pengurangan pada martabat (kedudukan) mereka yang tinggi.

Maka wajib bagi seorang mukallaf meyakini bahwa mereka Alaihi Sholatu Wassalam bersifat seperti yang dimiliki oleh manusia yang lainnya seperti makan, minum, jual beli, masuk pasar, kawin, mati, hidup, merasakan'kelezatan, merasakan sakit, sehat dan sakit. Namun, sifat-sifat yang ada dalam diri mereka (para Nabi dan Rosul) tidak menyebabkan orang-orang menjauhinya. Tidurnya beliau hanya matanya saja tetapi hatinya tidak, dan beliau mengeluarkan mani hanya memenuhi tempatnya,bukan ihtilam (mengeluarkan mani karena mimpi). Karena ihtilam adalah permainan syetan,maka syetan tidak dapat menguasai mereka (para Nabi dan Rosul) dan penguasaan syetan lainnya.

Adapun sifat kekurangan seperti kusta, lepra, tuli, buts, bisu, lumpuh, pincang dan buta sebelah, maka itu sernua mustahil terjadi pada mereka (para Nabi dan Rosul). Dan cerita yang mengatakan bahwa Nabi Syuaib alaihissalam buts,maka cerita tersebut tidak ada dasarnya dan ceritan Nabi Ya'qub alaihissalam tertimpa kebutaan dan kebutaan tersebut akhirnya hilang (dapat melihat), begitu pula cerita ulat yang- keluar dari tubuh Nabi Ayub alaihissalam ketika beliau sakit adalah cerita bohong yang tidak berdasar.

Dalil yang menunjukkan sifat-sifat yang terjadi pada setiap manusia pada diri Nabi dan Rosul adalah firman AIloh Ta'ala

"Dan mereka berkata, mengapa Rosul ini memakan makanan dan herjalan di pasar?"(QS.Al Furqan : 7)

"Dan Kami tidak mengutus Rosul- rosul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan drpasar pasar"(QS.Al Furqan 20).

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beherapa Rosul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka keturunan"(QS.Ar Ra'ad : 38).

"Dan ingatlah kisah Nabi Ayub ketika ia menyeru Tuhannya"Wahai Tuhanku sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara para penyayang", maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya padanya dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Alloh"(QS.Al Anbiya 83-84).

"Muhammad itu tak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlaku sebelumnya beberapa orang Rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan madharat kepada Alloh sedikitpun"(QS. Ali Imran : 144).

Wajib bagi seorang mukallaf meyakini bahwa para Nabi dan Rosul'Alaihi Sholatu Wassalam terjaga dari dosa-dosa (ma'shum) sebagaimana para malaikat terjaga dari dosa, mereka terhindar dari perbuatan maksiat, dan mereka meninggalkan maksiat itu wajib hukumnya dan mereka tidak melakukan perbuatan yang diharamkan dan mereka tidak mernpunyai sifat kecuali dengan akhlak yang mulia. Karena mereka (para Nabi dan Rosul) adalah suri tauladan yang baik dan contoh yang tinggi sebagai kiblat manusia (tempat mengadu/menghadap) dan Allah mendidik, membina dan mengajarkan mereka sehingga mereka (para Nabi dan Rosul) menjadi orang yang terdidik dan terpelajar.

Dalil yang menunjukkan ishmah mereka adalah firman Alloh Ta'ala

"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami"(QS.Ath thur :48)

"T'idak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang"(QS.Ali Imran : 161)

"Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu supaya kamu diasuh dibawah pengawasanKu"(QS.Thaha : 39).

Dan mereka (para Nabi dan Rosul) lebih utama dari para malaikat sebagaimana pendapat jumhur Al Asyairah.

Dan dalil hal itu adalah firman Allah Ta'ala :"Dan ketika Kami katakan pada para malaikat sujudlah kalian kepada Adam, makes sujudlah mereka"(QS.AI Baqarah : 34).

Perintah pada para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam adalah sebagai penghormatan. Jika saja Nabi Adam tidak lebih utama maka mereka tidak perintahkan sujud kepadanya. Termasuk hal yang wajib diyakini bahwa sebagian para Nabi dan Rosul itu lebih utama dari sebagian yang lain, berdasarkan firman Alloh Ta'ala,

"Rosul-rosul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain"(QS. Al Bagarah : 253 ),
dan firman Allah Ta'ala,"Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian Nabi-nabi itu"(QS. AL Isra'55).

Dan nash ini tidak bertentangan dengan firman Allah Ta'ala,
"Kami tidak membedakan diantara seorangpun dari para Rosul- rosulNya"(QS. Al Baqarah : 285)

Karena makna ayat ini tidak membeda-bedakan dalam risalah mereka dan mengimani mereka. Maka orang-orang yang beriman bukan seperti orang-orang yahudi dan nasrani yang hanya beriman pada sebagian para Nabi dan Rosul dan mengkafiri sebagian yang lainnya.

Maka Ulul Azmi (Nabi yang mempunyai kesabaran, ketetapan dan mampu menahan kesulitan), Alloh Ta'ala berfirman,"Bersabarlah sebagaimana para ulul azmi bersabar"(QS.Al Qof : 35).

Termasuk ulul azmi adalah: junjungan kita Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Nuh Alaihi Sholatu Wassalam merupakan paling utama diantara para Rosul yang lainnya.

Dan paling utama diantara ulul azmi secara mutlak adalah junjungan kita Nabi Muhammad SAW dan termasuk yang wajib diyakini bahwa sebagian dari para malaikat lebih utama dari sebagian yang lainnya seperti para Rosul berdasarkan firman Allah Ta'ala,

"Alloh memilih diantara para malaikat seorang utusan dan paling utama diantara mereka adalah malaikat Jibril alaihissalam.

SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLAH SWT DAN SIFAT MUSTAHIL PARA NABI DAN ROSUL

"Dan sifat mustahil adalah lawan dari sifat yang wajib maka hafalkanlah 50 sifat itu sebagai ketentuan yang wajib".

Sifat mustahil bagi Alloh Ta'ala, den rosulNya adalah lawan dari sifat wajib bagi Alloh Ta'ala den rosulNya, maka jumlah sifat mustahil itu sama seperti sifat wajib dan setiap mukallaf wajib mengetahuinya.

Sifat mustahil bagi Alloh Ta'ala itu berjumlah 20 sifat yang terperinci sebagai berikut ini:
1. Sifat Adam (tidak ada) lawan dari sifat wujud
2. Sifat Hudust (baru) lawan dari sifat Qwidam
3. Sifat Fana'(rusak) lawan dari sifat Baqa'
4. Sifat Mumatsilah lilhawaditsi (sama dengan makhluknya) lawan dari sifat mukholafatuhu lilhawaditsi (berbeda dengan makhiuknya)
5. Sifat A'damu Qiyamuhu binafsihi (tidak berdiri sendiri) lawan dari sifat Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri)
6. Sifat Ta'dud (berbilang) lawan dari sifat Wahdaniyah (Esa)
7. Sifat A'juzn (lemah) lawan dari sifat Qudrat (berkuasa)
8. Sifat Al Karahah (terpaksa) lawan dari sifat Iradah (berkehendak)
9. Sifat Jahlun (bodoh) lawan dari sifat Ilmun (berilmu)
10. Sifat Mautun (coati) lawan dari sifat Hayat (hidup)
11. Sifat Shomamun (tuli) lawan dari sifat Same'(mendengar)
12. Sifat Umyun (buta) lawan dari sifat Basher (melihat)
13. Sifat Bukmun (bisu) lawan dari sifat kalam (berbicara)
14. Sifat Kaunuhu A'jizan (Dzat yang lernah) lawan dari sifat Kaunuhu Qoadiron (Dzat yang berkuasa)
15. Sifat Kaunuhu Kaarihan (Dzat yang terpaksa) lawan dari Kaunuhu Muriidan (Dzat yang berkehendak)
16. Sifat Kaunuhu Jaahilan (Dzat yang bodoh) larvan dari sifat Kaunuhu `Aliman (Dzat yang berilmu)
17. Sifat Kaunuhu Mayyitan (Dzat yang coati) lawan dari Kaunuhu Hayyan (Dzat yang hidup)
18. Sifat Kaunuhu Ashomma (Dzat yang tuli) lawan dari Kaunuhu Sami'an (Dzat yang mendengar)
19. Sifat Kaunuhu A'maa (Dzat yang buts), lawan dari sifat Kaunuhu Bashiran (Dzat yang melihat)
20. Sifat Kaunuhu Abkamu (Dzat yang bisu) lawan dari sifat Kaunuhu Mutakalliman (Dzat yang berbicara)

Dan sifat mustahil bagi para Nabi dan Rosul alaihimus Sholatu Wassalam ada 4 sifat yaitu
1.Sifat Kidzib (bohong) lawan dari sifat sidiq (jujur)
2.Sifat Khianat (berkhianat) lawan dari sifat Amanat (dapat dipercaya)
3.Sifat Kitman (menyimpan) lawan dari sifat tabligh (menyampaikan risalah)
4.Sifat Baladah (bodoh) lawan dari sifat Fathonah (cerdas)

Aqidah-aqidah itu Wajib bagi kita menghafalkannya yaitu 50 sifat, perinciannya sebagai berikut ini:
-Sifat Wajib bagi Alloh ada 20
-Sifat Mustahil bagi Alloh ada 20
-Sifat Wajib bagi Rosul ada 4
-Sifat Mustahil bagi Rosul ada 4 -Sifat Jaiz bagi Alloh ada 1
-Sifat Jaiz bagi Rosul ada 1

Sumber :
1.jala'ul afham syarh aqidatul awwam
2.jawahirul kalamiyyah
3.dan berbagai sumber

WALLAHU A'LAMU BISHOWAB

Semoga bermanfaat
Selamat Datang di Blogsite MTs Negeri Berbek - Mewujudkan Insan MUTTAQIN (Mandiri, Unggul, Taqwa, Terampil, Amanah, Qur'ani dan INovatif #mtsnberbek.com
#mtsnberbek.com Terima Kasih Anda telah berkunjung di Blogsite kami - Jadilah orang pertama di antara teman-teman yang menyukai ini. #MADRASAH LEBIH BAIK LEBIH BAIK MADRASAH
Copyright © 2015 MTs Negeri Berbek Kabupaten Nganjuk . Designed by Zayn Mohammad