Rabu, 30 Maret 2016

Debat Kusir 
Penyiar TV dan Mantan Salafi yang menjadi Kafir.
Ini merupakan video singkat debat kusir penyiar TV-Memri, Ms. Riham, (tanpa hijab) dengan Dr. Noha (berhijab). Dr. Noha semula tak mau menamakan dirinya dalam debat debat ini. Ia mengaku mantan pengikut fanatics 'Salafi-wahabi' yang berbalik menjadi 'secular' dan dapat dikatakan murtad serta 'kafir'.
Perdebatan ini menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa pengalaman spriritual atau 'tasawuf' seseorang tak dapat dipaksakan melalui penekanan praktis syari'ah sebagiamana pengalaman Dr. Noha (saat masih menjadi bagian Salafi / Wahabi).
Satu sisi sang penyiar mengaku beriman (Muslim -Mukmin) tetapi tidak sepenuhnya menaati syari'ah, salah satu indikasinya adalah tak menutup rambut (aurat) atau 'tidak berjilbab'. Walaupun tanpa memakai hijab/jilbab ia mendukung diberlakukanya hukum syariah Islam yang menyeluruh.
Sedangkan mantan Salafi Wahabi (Dr. Noha) tentunya sudah jenuh dalam kungkungan doktrin syari'ah tanpa di-imbangi oleh pengalaman spiritual (tasawuf) sehingga ia malah berbalik menjadi orang 'kafir'. Indikasi kekafiranya adalah: ia menyangkal (mendustakan) kenabian dan kerasulan Muhammad. SAW dan tidak percaya bahwa Al-Qur'an adalah 'wahyu' dari Allah SWT yang dibawa oleh Jibril untuk Nabi Muhammad SAW. Doa dan kebaikan hatinya (saat menajdi salafi) tak merubah taqdir Tuhan, do'anya tak pernah dikabulkan Tuhan smile emotikon.
Mungkin Dr. Noha berfikir, Tuhan pun harus taat kepada syariah (aturan-hukum) yang dibuatNYA sendiri, (sebagaimana perjuangan Salafi menegakkan syariah) yakni barang siapa berdoa harus dikabulkan. Karena Tuhan sendiri yang berjanji, dalam salah satu firmanya : "Bedo'alah maka Aku (Tuhan) akan menjawabmu" smile emotikon. (Pengertian tanpa tasawuf Dr. Noha menuntut Tuhan mengabulkan do'anya) smile emotikon
Sebagaimana diketahui, manhaj aqidah taukhid Salafi Wahabi membagi tiga dimensi ke-esaan Tuhan : 1 Tauhidur-rububiyah, 2 Tauhid al-uluhiyah, 3, Tauhid al-asma wash-shifat, yang tidak mengenal 'Tasawuf' bahkan menganggap para Sufi itu tersesat.
Sedangkan Aqidah, model yang diikuti oleh Muslim Nusantara Indonesia dan sunnah wal jamaah adalah pemikiran-pemikiran aqidah yang dikembangkan oleh Abu Hasan al-‘Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Pada bidang Fiqh, mengikuti model pemikiran dan metode istinbat hukum yang dikembangkan empat imam madzhab (aimmat al- madzahib al-arba’ah) yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan dibidang Tasawwuf mengikuti model yang dikembangkan oleh Abu Hamid al-Ghazali dan Al-Juwaini al-Baghdadi. Prinsip dasar aqidah ini berbeda dengan dan atau ditolak oleh kaum Salafi Wahabi.
Inilah debat kusir antara mereka:
(P) Penyiar Radio Ms. Riham: Sebenarnya anda bukan hijaber kan?
(H) Hijaber - Dr. Noha: Bukan, saya bukan orang yang bisa memakai hijab.
P: Anda menutup kepala dengan tujuan untuk apa?
H: Saya menggunakan hijab ini untuk menyembunyikan nama saya dan kepribadian saya. Saya mengkhawatirkan keselamatan jiwa saya (dari ancaman-red). Saya tidak ingin terbunuh seperti Mr. Faraq Foda (Faraq Foda [فرج فوده] dibunuh di Mesir, 8/06/92 oleh extermist karena dianggap menyebar secularisme - Red). Dan juga (berhijab ini) menjaga perasaan keluarga saya yang sangat agamis. Tentu saya tidak ingin melukai perasaan mereka saat saya bicara yang terkait khusunya dengan Agama (Islam) yang tentu saja membuat mereka kecewa, jadi saya menjaga identitas pribadi saya (dengan hijab ini).
P: Saat ini semua orang Mesir kecewa denngan Anda.
H: Justru sebaliknya, saya melakukan ini (menulis dan propaganda secularisme-red) demi kemaslahatan masyarakat Mesir. Dan tetapi saya bukan;ah orang atheis.
P: Namun Anda mengatakan Al-Qur'an itu itu (berisi) kebohongan.
H: Saya mengatakan bahwa Muhammad lah yang telah mengarang Al-Qur'an. Bukan hanya Muhammad, tetapi semmua kitab-kitan suci (adalah karangan manusia-red)
P: OK, Anda tidak percaya bahwa Nabi kita Muhammad SAW. merupakan seorang Rasulullah.
H: Saya percaya bahwa dia adalah orang yang jenius. Seorang jenius, pembaharu,panglima militer dan orang hebat. Namun dialah yang mengarang Al-Qur'an. Tidak ada yang namanya 'wahyu' dan juga tidak ada yang namanya (malaikat) 'Jibril' (pembawa wahyu). Inilah point terpenting yang saya sebutkan, tidak ada yang namanya (malaikat) Jibril.
P: Tapi Anda meyakinkan (Orang Mesir melalui ajaran Anda) bahwa dia (Muhammad) bukan Rasul.
H: Saya katakan kepada Anda bahwa tidak ada yang namanya wahyu.
P: Saya tidak berbicara tentang wahyu. Tapi apakah (menurut Anda) Muhammad SAW bukan Rasul?
H: Tentu dia bukan Rasul, jika tidak ada wahyu, tidak ada Jibril pastinya dia bukan Rasul. Otomatis.
P: Dari mana Anda menyimpulkan ini?
H: Karena tidak ada yang namanya Jibril, tidak ada yang membawa kalam Tuhan kita untuk manusia, adalah Jibril. Dan jika Jibril adalah mitos belaka dengan demikian tidak ada wahyu.
P: Dari mana Anda berkesimpulan bahwa Jibril hanya mitos?
H: Yaitu tidak adanya dalil (bukti ilmiah-red) atas keberadaan Jibril.
P: Saya berikrar bahwa sesungguhnya Sayyidina Mukhammad SAW adalah Rasulullah.
H: Apa itu?
P: Dan saya juga beriman dengan setiap kalimat, seluruh huruf dan seluruh isi Al-Qur'an.
H: Namun Anda berbeda. Saya - saya ....
P: Dimana perbedaanya?
H: Saya akan jelaskan dimana perbedaanmu. Perbedaan antara orang Islamiin dan Anda Riham.Orang Islamiin memiliki kemauan ingin mengamalkan seluruh detail ajarannya syariah.
P: Saya juga. Namun saya tidak sepakat dengan orang yang membunuh orang-orang yang tidak menjalankan syariat Allah.
H: Tidak, tetapi...
P: Saya berharap syari'at Allah dipraktikkan dalam segala hal. Miras diharamkan (dilarang-red), tempat hiburan (ma'siat) ditutup. Saya muslimah maka saya wajib menjalankan syari'atnya.
H: Jika demikian, apakah Anda setuju tangan pencuri dipotong?.
P: Tentu saja.
H: Sungguh?
P: Iya.
H: Sejujurnya ini tidak boleh (terjadi), faktanya ini tidak manusiawi.
P: Tangan pencuri dipotong, pezina dirajam (lempar batu-red).
H: Tidak-tidak, ini ungkapan yang tidak manusiawi.
P: Saya setuju jika (hukum) Islam dipraktikkan dalam segala aspek dalam kehidupan tidak akan terjadi kejahatan.
H: Tidak tidak. Bagaimana Anda bisa membela sebuah mitos? Jibril hanya mitos.
P: Hak anda mengutarakan pendapat, tapi anda tidak berhak mengatakan itu (Jibril) adalh mitos.
(Mitos adalah bahasa Yunani: μῦθος— mythos atau mite -bahasa Belanda: mythe- adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya.)
H: Jibril adalah mitos.
P: Itu pendapat pendapat Anda.
P: Anda serius bahwa tidak percaya kewujudan Tuhan?
H: Tentu saya percaya!.
P: Kalau begitu mengapa kamu tidak berdo'a kepadaNYA?.
H: Tidak. Tidak. Saya berdoa tetapi DIA tidak menjawab (do'a saya).
P: Bagaimana logikanya, jika Anda percaya tetapi tidak berdo'a kepadaNYA?
H: Tidak. Karena Tuhan tidak akan pernah menjawab.
p: Bagaimana demikian?
H: Saya sering/banyak berdo'a tetap DIA tidak pernah menjawab.
P: Mengapa berfikiran Tuhan harus menjawab do'a Anda sedangkan ucapanmu/perilakumu demikian?
H: Tidak. Saya dulu adalah pengikut 'Salafi' (fanatic) dan Tuhan tidak mengabulkan do'a saya.
P: Tentu saja kerana hati Anda tidak bersih.
H: Hatiku dulu bersih tak bercacat.
P: OK, tapi Tuhan selalu mengabulkan do'a saya. Jika demikian apa pendapat Anda?.
H: Bukan, itu bukan dikabulkan tetapi hanyalah ...
P: Apakah kebetulan saya mendapatkan sesuai yang saya panjatkan?.
H: Kadang Anda mendapatkan dan kadang tidak. Mustahil dikabulkan 100 persen.
P: Tidak. Tuhan mengabulkan sesuai yang saya panjatkan.
H: Jika Anda memanjatkan doa meminta (uang) 1 juta pounds (Mesir) saya yakin tidak akan dikabulkan. Tidak. tidak akan dikabulkan.
P: Wallahi, Tuhan mengabulkan. Wallahi (Sumpah) Wallahi, Allah mengabulkan.
H: Anda juga berbicara tentang kebodohan.
P: Kamu yang bodoh. Yakin kamu mengatakan kebodohan tapi tidak mengakui. Saya wanita bodoh?
H: Tentu
P: Kalau begitu terimakasih. Berarti saya dan seluruh orang Mesir dan seluruh orang Arab bodoh itu bodoh.
Saya bangga dikatakan sebagai 'bodoh' jika karena percaya bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah.
H: Jika anda terus-terusan mengejek saya, saya akan berdiri dan pergi meninggalkan (studio) Anda.
P: Silahkan saja, keluar dari sini!
H: Apa?!!
P: Keluar!. .... copot microfone di luar sana!. Copot mic nya di luar sana.
H: Pelankan suara Anda! (Lebih sopanlah!).
P: Saya bilang, lepas mic nya di luar saja!
H: Anda tidak bisa bicara (seperti itu) kepada saya, Saya Doktor Noha. Sopanlah kepada Doktor Noha.
P: Copot microfone di luar!. Hai, Bung (penjaga studio-red) bawa dia keluar dari sini.
Silahkan keluar.
H: Saya menyesal sekali berbicara dengan wanita seperti ini.
P: Saya juga telah menyia-nyiakan waktu untuk orang gila.
OFF.
------
Debat Kusir telah usai.
Re interprated by Dardiri Zun

Kamis, 18 Februari 2016

Yazid bin Muawiyah

Yazid I
Masa kekuasaan 680 – 683
Nama lengkap Yazid bin Muawiyah
Pendahulu Muawiyah I
Pengganti Muawiyah II
Wangsa Bani Abdu Manaf
Dinasti Bani Umayyah
Ayah Muawiyah bin Abu Sufyan
Ibu Maysun


Yazid bin Muawiyah bergelar Yazid I (± 645 - 683) ialah khalifah kedua Bani Umayyah dan pengganti ayahandanya Muawiyah.
Genealogi

Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdu asy-Syams bin Abdul Manaf.
Kisah

Insiden khusus dari masa pemerintahannya terjadi dalam Pertempuran Karbala di mana cucu Nabi Muhammad, Husain bin Alibeserta pengikutnya terbunuh. Tidak hanya Husain tokoh terkemuka yang menentang kenaikan Yazid ke kursi kekhalifahan; ia juga ditentang Abdullah bin Zubair yang menyatakan menjadi khalifah sesungguhnya. Saat orang-orang Hejaz mulai memberikan kesetiaan pada Abdullah, Yazid mengirim pasukan untuk mengamankan daerah itu, dan Makkah diserbu. Selama penyerbuan, Ka’bah rusak, namun pengepungan berakhir dengan kematian mendadak Yazid pada 683.

Sebagai lelaki muda Yazid mengkomando pasukan Arab yang ayahandanya Muawiyah mengirim untuk mengepung Konstantinopel. Segera setelah itu ia menjadi khalifah, namun banyak dari yang ayahandanya telah menjaga di bawah pengawasan memberontak terhadapnya.

Walau disajikan dalam banyak sumber sebagai penguasa yang risau, dengan penuh semangat Yazid mencoba melanjutkan kebijakan ayahandanya dan menggaji banyak orang yang membantunya. Ia memperkuat struktur administrasi khilafah dan memperbaiki pertahanan militer Suriah, basis kekuatan Bani Umayyah. Sistem keuangan diperbaiki. Ia mengurangi pajak beberapa kelompok Kristen dan menghapuskan konsesi pajak yang ditanggung orang-orang Samara sebagai hadiah untuk pertolongan yang telah disumbangkan di hari-hari awal penaklukan Arab. Ia juga membayar perhatian berarti pada pertanian dan memperbaiki sistem irigasi di oasis Damsyik. Ia digantikan putranya Muawiyah II.



Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Muawiyah I Khalifah Bani Umayyah
(680–683) Diteruskan oleh:
Muawiyah II
Bani Umayyah

Pendiri
Umayyah • Utsman bin Affan • Abu Sufyan

Khalifah di Damaskus
Muawiyah I • Yazid I • Muawiyah II • Marwan I • Abdul Malik • Al-Walid I • Sulaiman • Umar II • Yazid II • Hisyam • Al-Walid II • Yazid III • Ibrahim • Marwan II

Amir di Kordoba
Abdurrahman I • Hisyam I • Al-Hakam I • Abdurrahman II • Muhammad • Al-Mundzir • Abdullah • Abdurrahman III

Khalifah di Kordoba
Abdurrahman III • Al-Hakam II • Hisyam II • Muhammad II • Sulaiman • Abdurrahman IV • Abdurrahman V • Muhammad III • Hisyam III

Wilayah penting
Damaskus • Kordoba • Al-Andalus

Pro-Umayyah
Thariq bin Ziyad • Hajjaj bin Yusuf • Al-Hurr

Anti-Umayyah
syi'ah • al-Husain • Ibnu Zubair

Peristiwa penting
Shiffin • Karbala

Muawiyah bin Abu Sufyan ( MUAWIYAH I )



Muawiyah I
Makam Muawiyah bin Abu Sufyan

Masa kekuasaan  : 661 – 680
Dinobatkan : 661
Dilantik  : 661
Nama lengkap : Muawiyah bin Abu Sufyan
Pendahulu  : Ali
Pewaris  : Yazid I
Pengganti  : Yazid I
Anak  : Yazid I
Wangsa  : Bani Abdus Syams
Dinasti  : Bani Umayyah
Ayah  : Abu Sufyan
Ibu  : Hindun binti Utbah


Muawiyah bin Abu Sufyan (602 – 680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah dan juru tulis Nabi Muhammad.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkahditaklukkan. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa Muawiyah masuk Islam pada 7 H. Kalangan Syi'ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, berbai'at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy'ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan ulung. Muawiyah adalah sahabat yang kontroversial dan tindakannya sering disalahartikan.


Nama Lengkap

Nama lengkap Muawiyah adalah Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab[1] Ia berasal dari bani (klan) Umawiyah.

Kunyah

Muawiyah memiliki kunyah (nama panggilan atau julukan). Kunyah nya adalah Abu Abdurrahman dan Al-Quraisyi al-Umawi Al-Makki.[2]

Ciri Fisik Muawiyah

Muawiyah adalah laki-laki yang berperawakan tinggi, berkulit putih, tampan, dan penuh wibawa[3].

Umar bin Khattab juga berkata bahwa Muawiyah suka makan makanan yang lezat[4] dan bergaya seperti raja[5]. Umar berkata begitu bukan bermaksud menjelekkan Muawiyah tapi hanya menginformasikan ciri khas Muawiyah. Bisa dimengerti mengapa Muawiyah melakukan hal itu karena ia memang berasal dari kabilah terpandang di masyarakat.

Sifat Muawiyah

Muawiyah adalah orang yang menyukai kebersihan[6]


Keluarga Muawiyah

Orangtua Muawiyah

Ayahnya Muawiyah adalah Abu Sufyan bin Harb, seorang sahabat Nabi Muhammad. Sedangkan ibunya adalah Hindun binti Utbah, seorang sahabiyah (sahabat wanita) nabi Muhammad.

Harapan Orangtuanya
Saat kecil, Abu Sufyan pernah melihat Muawiyah yang sedang merangkak, lalu berkata, "anakku ini berkepala besar, dia pantas memimpin kaumnya". Hindun menjawab, "hanya memimpin kaumnya saja? Seharusnya ia memimpin bangsa Arab seluruhnya"[7]

Saudara-Saudara Muawiyah

Muawiyah memiliki beberapa saudara. Mereka adalah sebagai berikut:

1. Yazid bin Abu Sufyan

2. Utbah bin Abu Sufyan

3. Anbasah bin Abu Sufyan

4. Ummu Habibah binti Abu Sufyan

5. Ummul Hakam binti Abu Sufyan

6. Azzah binti Abu Sufyan

7. Umaimah binti Abu Sufyan[8]

Istri-Istri Muawiyah

Muawiyah memiliki beberapa orang istri. Ada yang diceraikannya dan ada pula yang meninggal[9]. Berikut adalah nama-nama mereka:

1. Maisun binti Bahdal al-Kalbiyah. Muawiyah menceraikannya karena Maisun tidak betah tinggal di istana Muawiyah yang besar dan lebih mencintai desanya.

2. Fakhitah binti Qarazhah bin Abd Amr bin Naufal bin Abdi Manaf.

3. Kanud binti Qarazhah. Kanud adalah saudara Fakhitah. Muawiyah menikahinya setelah Fakhitah wafat. Dia lah yang bersama Muawiyah saat pembebasan Cyprus.

4. Na'ilah binti Imarah al-Kalbiyah. Muawiyah mentalaknya karena sebuah persoalan.

Anak-anak Muawiyah

Muawiyah juga memiliki beberapa anak[10]. Ini adalah nama-namanya yang tercatat:

1. Yazid bin Muawiyah. Ia lahir dari Maisun binti Bahdal. Saat Muawiyah menceraikan Maisun dan kembali ke desanya, Yazid mengikuti ibunya. Jadi, masa kecilnya dihabiskan di desa ibunya, menghirup udara segar dan bahasa Arab fasih.

2. Abdurrahman bin Muawiyah. Ibunya adalah Fakhitah. Abdurrahman meninggal sewaktu masih kecil.

3. Abdullah bin Muawiyah. Abdullah adalah anak dari Fakhitah. Ia anak yang terbelakang mental dan sangat lemah.

4. Ramlah binti Muawiyah. Setelah dewasa, Ramlah dinikahi oleh Amr bin Utsman bin Affan

5. Hindun binti Muawiyah. Hindun ini kemudian dinikahi oleh Abdullah bin Amir

6. Aisyah binti Muawiyah

7. Atikah binti Muawiyah

8. Shafiyyah binti Muawiyah


Masuk Islamnya Muawiyah

Pendapat yang terkenal mengatakan bahwa Muawiyah masuk Islam pada masa Penaklukkan Makkah. Namun, Muawiyah sendiri mengatakan bahwa, "aku masuk Islam dalam peristiwa Umrah Qadha tahun 7 H, tetapi aku menyembunyikannya dari bapakku". Hal itu dapat dimengerti karena situasi saat itu masih mencekam. Selain itu posisi Muawiyah cukup sulit, mengingat Abu Sufyan pada waktu itu masih kafir, bahkan Abu Sufyan adalah pemimpin Quraisy dalam melawan Nabi Muhammad. Muawiyah juga ikut perang Hunain dan Nabi Muhammad memberinya seratus unta dan 40 uqiyah emas dari harta rampasan perang Hunain.[11]


Hadist Nabi tentang Muawiyah

Baca juga: Hadist palsu tentang Muawiyah

"Ya Allah jadikanlah dia sebagai orang yang bisa memberikan petunjuk dan seorang yang diberi petunjuk (Mahdi) dan berikanlah hidayah (kepada manusia) melaluinya.” [12]

Hadist di atas adalah hadist shahih yang diriwayatkan oleh banyak ahli hadist dan membicarakan tentang kebaikan Muawiyah[13]


Muawiyah di Zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq

Zaman Abu Bakar adalah zaman kritis di mana benih kemurtadan mulai merebak. Abu Bakar bertindak tegas dengan memerangi mereka. Muawiyah ikut salah satu pertempuran itu, yakni Perang Yamamah, perang melawan Musailamah si nabi palsu[14]. Setelah pemberontakan internal selesai, kaum Muslimin mengalihkan pandangan mereka ke luar, yakni pembebasan negeri di sekitar mereka dari pemimpin zalim. Abu Bakar mengirim pasukan ke banyak tempat, salah satunya adalah Syam. Dalam kontingen pasukan Syam, ada salah satu pasukan yang dikomandani oleh Muawiyah.[15]


Muawiyah di Zaman Umar bin Khattab

Membuka Qaisariyah (Caesarea)

Qaisariyah (sekarang Caesarea) adalah kota dekat Tel Aviv. Pada zaman Umar, Muawiyah ditugaskan untuk membebaskan kota ini. Namun, ternyata Qaisariyah memilliki benteng pertahanan dan pasukan yang sangat kuat. Setelah Qaisariyah dikepung dalam waktu cukup lama, Muawiyah pun berhasil menerobos kota tersebut. Dikatakan prajurit Qaisariyah yang tewas mencapai 100.000 orang[16]

Membuka Pesisir Syam

Mendengar keberhasilan saudaranya, Yazid bin Abu Sufyan yang juga seorang Gubernur Damaskus, meminta Muawiyah untuk ikut membebaskan pesisir Syam. Setelah bertarung melawan orang-orang Romawi, Muawiyah dan prajuritnya berhasil menang.[17]

Menjadi Gubernur Yordania

Setelah Muawiyah membuktikan kekuatannya atas dua peristiwa sebelumnya, Umar mengangkatnya sebagai Gubernur Yordania pada 17 H.[18]

Menjadi Penguasa Damaskus, Ba'labak, dan Balqa

Saudara Muawiyah, Yazid bin Abu Sufyan, meninggal karena wabah Tha'un pada 18 H. Sebagian ulama berpendapat Tha'un adalah wabah pes[19], tetapi ada pula yang berpendapat Tha'un masih belum jelas termasuk kategori penyakit apa[20]. Untuk mengisi kekosongan, Umar bin Khattab menugaskan Muawiyah untuk menggantikan posisi saudaranya memimpin Damaskus, Ba'labak (Ballbek, Yordania), dan Balqa (Yordania).[21]

Membagi Pasukan Islam

Byzantium dan Persia terus menyerang daerah perbatasan kekhalifahan. Untuk menahan hal itu, Muawiyah membagi pasukan menjadi dua, yakni pasukan musim panas dan pasukan musim dingin. Selain itu, Muawiyah menutup celah-celah di kota-kota perbatasan agar tak diserang. Muawiyah sempat memimpin penyerangan musim panas melawan Byzantium di 22 H.[22]

Membangun Angkatan Laut Islam

Mayoritas kaum Muslimin pada saat itu adalah orang Arab. Mereka adalah orang-orang yang tidak akrab dengan laut. Namun, Muawiyah menyadari pentingnya angkatan laut dan di zaman Umar ia mulai membangunnya. Sayangnya, Umar tidak mengizinkan Muawiyah memakai angkatan laut karena ia tidak mau kaum Muslimin habis ditelan laut (karena mereka tidak familiar dengan laut)[23]. Angkatan laut baru dipergunakan pada zaman Utsman bin Affan untuk membebaskan Cyprus.[24]


Muawiyah di Zaman Utsman bin Affan

Menjadi Gubernur Penuh Syam

Sebagaimana Umar, Utsman bin Affan tidak memakzulkan Muawiyah. Bahkan, Utsman terus memberi Muawiyah kekuasaan sehingga Muawiyah menjadi Gubernur daerah mayoritas Syam. Ia menguasai daerah yang sangat luas dan telah menjadi gubernur Utsman yang paling berpengaruh. Di awal pemerintahan Utsman, di Syam ada beberapa gubernur, yakni Muawiyah bin Abu Sufyan, Umair bin Saad al-Anshari (Himsh), dan Alqamah bin Khalid bin Walid (Palestina). Namun, karena Umair sering sakit-sakitan, ia mengundurkan diri dari jabatannya. Utsman pun memberikan Himsh kepada Muawiyah. Setelah itu Alqamah wafat, Utsman pun memberikan Palestina kepada Muawiyah. Hal ini membuat Muawiyah menjadi gubernur Syam seluruhnya. Sampai akhir hayat Utsman, Muawiyah mengontrol daerah Syam. Pada zaman modern, Syam meliputi Palestina,Yordania, Lebanon, dan Syria -bisa dibayangkan seluas apa daerah kekuasaan Muawiyah.[25].

Inspeksi Militer ke Perbatasan

Pada zaman Utsman, Muawiyah cukup banyak melakukan inspeksi militer ke daerah perbatasan daerah kekuasaannya di Syam. Misalnya, pada 25 H ia menuju Anthakiyah danTarsus, tahun 26 H ia kembali melakukannya. Tahun 31 H, Muawiyah berangkat ke Daruliyah. Perbatasan yang berbentuk kepulauan ia serahkan penjagaannya kepada Habib bin Maslamah. Muawiyah juga beberapa turun langsung memimpin pasukannya sampai merambah celah bukit di Konstantinopel[26].

Pembebasan Cyprus

Syarat dari Utsman

Setelah sebelumnya ditolak Umar, Muawiyah kali ini mencoba meyakinkan Utsman untuk memakai angkatan laut demi membebaskan Qubrush (Cyprus). Utsman mengizinkannya dengan memberi syarat:

· Muawiyah harus membawa istrinya

· Pasukan yang berangkat harus dengan kemauan sendiri. Jika ada yang tidak mau berangkat maka tidak apa-apa[27]

Pembebasan dimulai

Walaupun Muawiyah mempersilahkan masyarakat untuk memilih ikut ke Cyprus atau tidak, kekhalifahan berhasil mengumpulkan armada hingga 1.700 kapal. Mereka tertarik karena sebuah hadist dari Ummu Haram binti Milhan (istri sahabat Nabi Ubadah bin Shamit) yang menyebutkan bahwa akan ada sekelompok dari umatnya yang "mengarungi laut seperti raja-raja di singgasana"[28]. Pada 28 H (649 M) mereka pun berangkat. Di pelabuhan, Abdullah bin Qais al-Jasi, panglima angkatan laut bermusyawarah dengan Muawiyah dan sahabat Nabi yang lain. Pasukan segera mengepung ibukota Cyprus dan mengatakan mereka tidak datang untuk mengambil-alih Cyprus, akan tetapi meminta mereka bekerjasama dengan kekhalifahan. Sebab selama ini Cyprus menjadi daerah kekuasaan Byzantium sehingga menjadi duri dalam daging kekhalifahan.Tidak butuh waktu lama, Cyprus pun menyerah dan menyetujui syarat-syarat berikut:

· Bila Cyprus menyerang kaum Muslimin, ia tidak akan dibela lagi

· Cyprus harus mengabarkan gerak-gerik Byzantium

· Cyprus harus membayar jizyah kepada kekhalifahan sebesar 7.200 dinar per tahun

· Cprus tidak boleh mendukung Byzantium jika mereka menyerang kekhalifahan dan tidak membocorkan rahasia kekhalifahan[29]

Cyprus Mengingkari Perjanjian

Pada 32 H, Cyprus mengingkari perjanjian dengan kekhalifahan karena ditekan Byzantium. Kali ini Muawiyah datang kembali dan mengambil-alih Cyprus. Setelah menguasai Cyprus, Muawiyah menyadari bahwa ternyata Cyprus hanyalah pulau yang lemah. Tradisi militer mereka lemah sekali dan sering dijadikan boneka oleh Byzantium. Oleh karena itulah, Muawiyah menempatkan 12.000 pasukan di Cyprus, mendirikan kota-kota baru, membereskan administrasi, menggaji tentara, dan melindungi Cyprus dari serangan Byzantium.[30]

Muawiyah Membantu Utsman Menghadapi Badai Ujian

Baca juga: Tuduhan terhadap Utsman bin Affan

Di akhir pemerintahannya, Utsman menerima cobaan yang berat. Ia dituduh macam-macam oleh sebagian rakyatnya, mulai dari tuduhan menggelapkan harta, boros, mengangkat keluarganya sendiri untuk menduduki jabatan penting, dan sebagainya. Di masa-masa ini, Muawiyah terus membantu Utsman.

Mendebat Perusuh

Pada suatu hari di tahun 33 H, ada sekelompok orang yang mencari ribut di Kufah sampai hampir menyulut pertempuran. Utsman yang mendengar itu menyuruh Said bin Al-Ash, Gubernur Kufah, mengirim mereka ke Syam untuk bertemu Muawiyah. Utsman memerintahkan Muawiyah untuk "memperingati mereka dengan tegas, membuat nyali mereka ciut, menakut-nakuti mereka, dan mendidik mereka"[31] agar tidak membuat kerusuhan lagi. Muawiyah pun berkali-kali mendebat mereka dan berkali-kali pula menang. Di akhir debat mereka kalah dan marah, lalu merenggut jenggot Muawiyah[32]. Muawiyah pun mengancam mereka agar jangan macam-macam terhadap dirinya. Ancaman itu membuat mereka mundur.

Muawiyah mengirim surat kepada Utsman dan mengatakan bahwa mereka "berbicara dengan lidah setan". Utsman mengirim mereka ke Kufah kembali. Namun, karena mereka macam-macam kembali, Utsman kemudian mengirim mereka ke Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid, gubernur Himsh. Di sini mereka baru tidak berani macam-macam karena Abdurrahman adalah anak Khalid bin al-Walid dan dia adalah seorang laki-laki yang berkarakter sangat keras seperti ayahnya.[33]

Muawiyah Mengikuti Forum Antargubernur

Kerusuhan yang makin parah menyebabkan Utsman mengundang para gubernur dan sahabat Nabi untuk berunding tentang apa yang harus dilakukannya terhadap para pemberontak ini. Di forum ini, Muawiyah mengusulkan untuk segera mengirim pasukan ke mereka dan dia sendiri akan mengatasi pemberontakan di Syam. Namun, Utsman lebih tertarik dengan perdamaian dan tidak menerima usul Muawiyah.[34]

Sebelum pulang kembali ke Syam, Muawiyah memperingatkan Utsman bahwa ia kemungkinan akan segera dibunuh oleh pemberontak dan Muawiyah menawarkan pasukan Syam untuk melindungi Utsman. Utsman mengatakan ia sudah tahu hal itu, tetapi ia menolak perlindungan dari Muawiyah karena ia tidak mau merepotkan orang-orang Madinah atas kedatangan pasukan Syam.[35]

Sikap Muawiyah Atas Terbunuhnya Utsman

Para perusuh yang mencapai 500 orang sudah mencapai rumah Utsman. Para sahabat Nabi mengirimkan anak-anak mereka untuk melindungi Utsman tetapi mereka kalah jumlah. Utsman dibunuh dan para sahabat yang melindunginya terluka. Dan tidak ada satu orang sahabat Nabi Muhammad yang terlibat dan menyetujui pembunuhan itu. Ummu Habibah binti Abu Sufyan mengirimkan baju Utsman yang berlumuran darah ke tangan Muawiyah[36]. Saat mendengar berita pembunuhan itu, Muawiyah berpidato di depan penduduk Syam, bersumpah akan menuntut balas kematiannya.[37] Penduduk Syam sendiri bersumpah akan membantu Muawiyah dengan mengorbankan nyawa mereka.[38]


Muawiyah di Zaman Ali bin Abi Thalib

Inti Konflik Ali-Muawiyah

Setelah Utsman terbunuh, para sahabat sepakat untuk menghukum qishash pelaku pembunuhan Utsman. Namun, mereka terbagi tiga kelompok tentang hal ini:

· Pertama, mereka harus diqishash secepatnya sebelum baiat kepada Ali. Inilah pendapat Muawiyah dan pendukungnya. Muawiyah berpendapat jika qishash ditunda, pembunuhnya akan berbaur di kehidupan sehari-hari kaum Muslimin dan mereka akan sulit dilacak. Lagipula, Muawiyah adalah wali Utsman dan di antara saudara-saudara Utsman yang lain, Muawiyah lah yang kekuatannya paling besar.

· Kedua, mereka harus diqishash tetapi setelah Ali bisa mengendalikan keadaan sehingga tenteram kembali. Jika qishash dilaksanakan sekarang juga, maka akan berakibat keadaan makin kacau. Para perusuh akan melipatgandakan tekanannya kepada kekhalifahan. Ini adalah pendapat Ali dan pendukungnya. Mayoritas sahabat Nabi menjadi pendukung Ali.

· Ketiga, uzlah (mengasingkan diri). Ada sahabat-sahabat Nabi yang tidak mau terlibat dalam permasalahan ini dan mereka pun pindah dari pusat konflik. Mereka tidak mau berperang dengan saudara sesama mukmin. Mereka adalah Abdullah bin Umar, Saad bin Abi Waqqash, dan lainnya.

Inti dari permasalahan Ali-Muawiyah adalah perbedaan cara qishash ini. Muawiyah sendiri tidak mengklaim bahwa dirinya khalifah umat Islam dan tidak berniat merebut kekhalifahan. Hanyasaja ia dan penduduk Syam tidak mau baiat (sumpah setia) kepada Ali karena permasalahan terbunuhnya Utsman tersebut. Ketika kita melihat kondisi zaman Ali lewat kacamata abad modern, kita bisa dengan mudah menilai, tetapi bagi orang yang hidup di zaman itu, situasi pada saat tersebut sangat pelik. Menurut mayoritas ulama, dalam persoalan rumit itu yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat Ali karena bagaimanapun juga perdamaian negara lebih diutamakan.

Muawiyah pernah ditanya, "Apakah kau penentang Ali?"

Muawiyah menjawab, "Tidak demi Allah. Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwa dia lebih utama dariku dan lebih berhak memegang khilafah dariku. Akan tetapi, sebagaimana yang kalian ketahui bahwa Utsman dibunuh dalam keadaan teraniaya dan aku, sepupu Utsman, akan menuntut darahnya. Datanglah kepada Ali dan katakan, 'serahkan para pembunuh Utsman kepadaku dan aku akan tunduk kepadanya"

Orang-orang segera menemui Ali dan mengatakan perkataan Muawiyah, tetapi Ali tidak mengabulkannya[39]

Perang Saudara

Karena situasi makin memanas, akhirnya terjadilah Perang Jamal dan Perang Shiffin antara kubu Ali dan Muawiyah. Tebunuhnya Ammar bin Yasir menjadi kunci selesainya perang ini karena Nabi Muhammad pernah mengabarkan bahwa yang membunuh Ammar adalah kelompok pembangkang[40]. Yang membunuh Ammar bin Yasir ternyata adalah Abu al-Ghadiyah Al-Juhani dari pihak Muawiyah -ia bukanlah sahabat Nabi.[41]

Terbunuhnya Ammar membuat kedua kelompok terguncang dan sepakat untuk berdamai. Mereka juga mengkhawatirkan perbatasan yang sedang lemah dan kapan saja bisa diserang oleh Persia dan Byzantium. Perjanjian damai ini dibuat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah dengan kedua hakimnya adalah Amr bin Ash dan Abu Musa al-Asy'ari. Tidak seperti kabar yang terkenal, Amr bin Ash tidak memakzulkan Ali.[42]

Ali Terbunuh dan Sikap Muawiyah

Saat kabar tentang Ali yang terbunuh sampai kepada Muawiyah, ia menangis. Istrinya berkata, "Kamu menangisi orang yang memerangimu?" Muawiyah menjawab, "Diam saja lah kamu. Kamu tidak mengetahui berapa banyak manusia kehilangan keutamaan, fikih, dan ilmu karena kematian beliau" Utbah berkata juga, "Jangan sampai orang-orang Syam mendengar hal itu darimu". Muawiyah menghardik, "Kamu juga diam saja lah!"[43]

Sikap Kita terhadap Konflik Ali-Muawiyah

Menurut mayoritas ulama, sikap Kaum Muslimin dalam menyikapi konflik Ali-Muawiyah adalah meyakini bahwa mereka semua sedang berijtihad merespon situasi yang sangat pelik pada masa itu. Di antara mereka ada yang benar dan mendapat dua pahala, tetapi di antara mereka ada yang salah dan mendapat satu pahala. Kita tidak boleh membicarakan sahabat Nabi dengan perasaan benci.[44]

Referensi

* Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin Abu Sufyan.
http://priyayimuslim.wordpress.com/2012/12/11/keutamaan-muawiyah-bin-abi-sufyan-berdasarkan-hadits-rasulullah/
* Hadits ini diriwayatkan At Tirmidzi No. 3842, Imam At Tirmidzi berkata: hasan gharib. Ahmad No. 17895, Al Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir, 5/240. Ibnu Abi ‘Ashim, Al Aahaad wal Matsani No. 1129, Al Khathib dalam Tarikh Baghdad , 1/207-208, Ibnul Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah No. 442, Al Khalal dalam As Sunnah No. 699, Ibnu Qaani’ dalam Mu’jam Ash Shahabah, 2/146, Ath Thabarani dalam Al Ausath No. 660, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 8/358. Imam Ibnu Abdil Bar dan Al Hafizh Ibnu Hajar mengisyaratkan kelemahan hadits ini. Lihat Al Ishabah, 4/342-343 dan Fathul Bari, 7/104 Akan tetapi, menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth, hadits ini adalah shahih. “Rijal hadits ini tsiqat (terpercaya) dan merupakan para perawi hadits shahih, kecuali Sa’id bin Abdul Aziz, dia menjadi pokok perbincangan hadits ini, dia telah mengalami kekacauan hapalan pada akhir usianya seperti yang dikatakan oleh Abu Mushir dan Yahya bin Ma’in.” (Musnad Ahmad No. 17895, dengan tahqiq; Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh ‘Adil Mursyid, dan lainnya) Menurut Syaikh Al Albani, hadits ini shahih, “Semua rijal (perawinya) adalah tsiqat (terpercaya) dan merupakan perawi yang dipakai Imam Muslim, maka hadits ini lebih benar adalah shahih.” (As Silsilah Ash Shahihah No. 1969)
* Ash-Shallabi, Ali Muhammad. Muawiyah bin

Rabu, 30 Desember 2015

BELAJAR PIDATO ANAK "Birrul-Walidain"


Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
حمداً لله، وصلاةً وسلاماً على نبيه وآله وصحبه ومن والاه، وعلى كل من اهتدى بهداه. أما بعد
Hamdal-lillaah, wa shalaatan wa salaaman ‘alaa nabiyyihi wa aalihi wa shahbihi wa man waalah, wa ‘alaa kulli manih-tadaa bihudaah. Amma ba’du.
Bapak-bapak, ibu-ibu, dan teman-teman sekalian, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menyampaikan salah satu hal yang menjadi kewajiban kita semua. Yaitu berbakti kepada orang tua.
Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban setiap muslim dan muslimah, mulai anak-anak sampai orang dewasa. Kewajiban itu telah Allah perintahkan sebagaimana firman-Nya dalam Kitabullah yang mulia :
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
Wa’-budullaaha walaa tusyrikuu bihii syaia, wa bil-waalidaini ihsaanaw-wa dzil qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiini wal-jaari dzil qurbaa wal-jaaril-junubi wash-shaahibi bil-janbi wab-nis-sabiili wamaa malakat aimaanukum.
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu” [QS. An-Nisaa ayat 36].
Kita diwajibkan menghormati mereka, tidak menyusahkan mereka, serta tidak melawan mereka. Bahkan,….kita diharamkan untuk berkata “ah” kepada orang tua apabila diperintah mengerjakan sesuatu. Allah telah berfirman dalam QS. Al-Israa ayat 23 yang bunyinya :
فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
Falaa taqul-lahumaa uffin walaa tanhar humaa wa qul-lahumaa qaulan-kariima
“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia”.
Bapak-bapak, ibu-ibu, dan teman-teman sekalian dapat memperhatikan ayat yang telah saya bacakan barusan. Jika perkataan “ah” saja tidak diperbolehkan, maka bagaimana halnya jika kita mengatakan kata-kata kasar terhadap ibu dan bapak kita ? Atau bahkan memukul mereka ? Kita tidak boleh mencontoh perilaku orang-orang kafir yang sering muncul di tivi-tivi dan di majalah-majalah yang menyebutkan kedurhakaan mereka terhadap orang tua.
Islam adalah agama yang mulia yang mengajarkan sopan-santun terhadap orang tua. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai bentuk pengamalan kita berbakti kepada orang tua. Diantaranya adalah :
1. Menuruti perintah orang tua. Tidak boleh membangkang dan tidak boleh bandel. Kalau kita diperintah untuk shalat, cepat-cepat kita mengerjakan shalat. Kalau kita diperintah untuk belajar, ya cepat-cepat belajar.
2. Membantu pekerjaan orang tua di rumah. Misalnya : kalau kita melihat lantai rumah belum disapu, lekas saja kita sapu. Apabila bangun tidur, jangan langsung pergi kel luar kamar sebelum membereskan tempat tidur. Kita tidak boleh merepotkan ibu dan bapak kita. Kita harus membantu mereka sebisa kita.
3. Berkata dengan baik dan sopan. Bagi teman-teman yang biasa memakai bahasa Jawa, jangan memakai bahasa Ngoko. Tapi pakailah bahasa kromo inggil.
4. Belajar yang rajin agar menjadi anak yang pinter. Orang tua kita pasti senang jika melihat kita menjadi anak yang rajin dan pintar. Membuat senang orang tua juga merupakan perbuatan berbakti kepada orang tua.
5. Ini yang tidak kalah penting : Beribadah yang rajin dan selalu mendoakan mereka. Teman-teman hafal tidak doa yang diajarkan ibu guru kita di sekolah ? Itu lho :
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Rabbanagh-firlii wa liwaalidayya wa lil-mukminiina yauma yaquumul-hisaab
“Ya Rabb kami, berikanlah ampunan kepadaku dan kedua orang tuaku serta sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (diambil dari QS. Ibrahim : 41).
6. Dan yang lainnya……
Masih banyak hal lain yang dapat kita lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita.
Apabila teman-teman bertanya kepada saya : “Mengapa kita harus berbakti kepada orang tua ?”. Kata pak ustadz, kita harus berbakti kepada orang tua karena Allah dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan demikian dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain itu, melalui perantaraan orang tualah kita dilahirkan ke dunia ini. Orang tua kita lah yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang sewaktu kita masih bayi, sampai kita dapat bersekolah saat ini. Orang tua lah yang mendidik, membiayai, dan mencukupi semua kebutuhan kita tanpa pamrih. Orang tua kita sangat merasa sedih ketika kita sakit. Kita dibawa ke dokter, disuntik, agar kita dapat sehat kembali dan dapat bermain dengan teman-teman. Kita berbakti kepada orang tua dalam rangka beramal shalih mencari pahala dan keridlaan Allah di dunia.
Pak ustadz juga bilang, kita tidak boleh durhaka kepada orang tua kita, lebih-lebih pada ibu kandung kita. Haram hukumnya. Ibu lah yang telah mengandung kita, membawa kita kemanapun ibu kita pergi. Ibu kita telah mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan kita di bu bidan. O, iya,….saya ingat perkataan pak ustadz bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh salah seorang shahabat : “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?”. Rasulullah menjawab : “Ibumu”. Orang tersebut mengulang sampai tiga kali. Rasulullah memberi jawaban yang sama : “Ibumu”. Baru kemudian beliau menjawab : “Bapakmu”.
Makanya teman-teman,…..jangan nakal ya sama ibu kita.
Bapak-bapak, ibu-ibu, dan teman-teman yang saya cintai,….kiranya apa yang saya sampaikan tentang Berbakti kepada Orang Tua saya cukupkan sampai di sini. Sebagai penutup, akan saya sampaikan sebuah hadits dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
Ridlar-rabbi fii ridlal-waalidi, wa sukhthur-rabbi fii sukhthil-waalidi
“Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua, dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua”.
Wa shallallaahu wa sallama ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wal-hamdulillaahi rabbil-‘aalamiin. Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Selasa, 29 Desember 2015

GUS DUR (Abdur Rahman Wahid) Presiden ke 4 Indonesia

DI PESANTREN KH.Q. AHMAD SYAHID, BETAPA BENCINYA SAYA KEPADA GUS DUR.
Oleh : Sanghyang Mughni Pancaniti
Sekitar tahun 2002, saya menjadi seorang Santri di Pondok Pesantren Al-Falah Bandung yang diasuh KH. Q. Ahmad Syahid. Waktu itu para santri biasa memanggil beliau dengan sebutan 'Ayah'. Di pesantren ini, saya sekolah Tsanawiyah.
Salah satu kawan saya, Ari namanya, merupakan pelanggan majalah Islam Sabili selama di pondok. Tak jarang saya membaca majalah itu setelah dirinya selesai. Ada dua isu besar yang selalu diangkat majalah tersebut: Penegakkan Syaria't Islam dan Gus Dur. Karena saya tidak tertarik tentang Syari'at Islam ala Sabili, maka berita Gus Dur menjadi fokus saya waktu itu.
Sedikit demi sedikit, untuk pertama kalinya, kebencian kepada seorang manusia tumbuh dalam diri saya, dan semakin lama kebencian itu semakin menegas. Kepada siapa saya benci? Kepada Gus Dur. Siapa penyebabnya? Majalah Islam Sabili.
Di tengah kegiatan saya membaca al-Qur'an dan mengaji Kitab Kuning, kebencian saya kepada Gus Dur begitu mengkristal. Dia adalah Kyai yang membela kemaksiatan, Kyai yang murtad karena sudah dibaptis masuk Kristen, Kyai yang mendukung pemurtadan, Kyai yang menyebabkan terbunuhnya para Kyai di Jawa, Kyai yang membuat orang Islam di Poso dipenggal dan dibunuh. Semua isu itu diulang-ulang majalah Sabili pada banyak edisi. Saya sungguh percaya. Dan kepercayaan itu saya wujudkan dengan penghinaan serta cacian, "Di Neraka nanti, Gus Dur adalah pemimpin para Kyai yang sebenarnya busuk dan munafik.!"
Keterkejutan saya tiba, ketika Ayah mengadakan pengajian bersama Gus Dur di Pondok. Para Ustadz dan Kyai-kyai kampung sekitar pondok diundangnya. "Kenapa Ayah mengundang Kyai edan itu? Biar semua santri dan masyarakat menjadi sesat seperti dirinya?" Diam-diam hati saya mengutuk keputusan Ayah.
Tapi tak bisa dipungkiri, selain kutukan yang saya lemparkan, ada kepenasaran yang lahir diam-diam. Setahu saya, Ayah adalah Kyai kharismatik, begitu indah perangainya, sangat luas ilmunya, dan selalu berhati-hati dalam memilih kawan. Lalu bagaimana mungkin Ayah menjadikan Kyai edan semacam Gus Dur sebagai kawan? Bahkan sesekali kudengar, Ayah menyebut Gusdur sebagai Guru. Walah bahaya. Siapa yang harus kupercaya dalam menilai Gus Dur? Majalah Sabili yang tak pernah kutemui orang-orang di baliknya? Atau Ayah yang setiap hari mengajariku dan mengasuhku di Pesantren?
Ah, pertanyaan dalam diriku tentang siapa sebenarnya Gus Dur, rupanya tak terjawab sampai aku meninggalkan Pondok Pesantren al-Falah dan menyelesaikan Aliyah di al-Musaddadiyah Garut. Sedangkan kebencian dan kepenasaranku pada Gus Dur, tetap mengendap, tak terendus, tak terlihat, membasahi palung ingatan.
Ketika keilmuan saya bertambah matang, dan hati nurani telah mampu 'mempertimbangkan', benci pada Gusdur akhirnya remuk, bahkan mewujud menjadi rindu dan cinta. Bagaimana proses 'perpindahan rasa' itu terjadi? Lain kali akan saya ceritakan. Sedangkan Ari sendiri, teman saya yang pelanggan majalah Sabili itu, sudah tak berhasrat menegakkan Syariat Islam yang dipropagandakan majalah Sabili, melainkan telah menjadi Bobotoh Sejati PERSIB.
---------------------------------------------------
"Nak, dalam memahami sesuatu, gunakanlah pengetahuanmu. Perasaan benci dan cinta, singkirkanlah terlebih dahulu.!" Kata-kata ini diucapkan Ayah (KH.Q. Ahmad Syahid) dalam mimpiku. Kami bertemu di sebuah tempat yang entah dimana. Dan ketika bangun tidur, tubuhku menggigil, keringatku menderas, terpana aku oleh pesan Ayah ini.
Mimpi itu terjadi ketika aku kuliah di UIN Bandung, dan baru semester 2.
Siapa yang tak bahagia, ditemui oleh Guru yang amat dihormatinya dalam ruang yang tak terduga: alam mimpi. Pesan Ayah itu menggedor kesadaranku, menulusup pada kedirianku yang paling dalam. Bahkan ajaibnya, benciku pada Gus Dur seketika remuk. Ya, benci yang mengkristal selama bertahun-tahun itu rubuh. Pecah dan meledak. Meski aku belum mengetahui, apakah aku akan jatuh cinta padanya.
Kebencianku pada Cucu Mbah Hasyim Asy'ari itu, membenam di dada saat aku masih kecil, saat segala informasi dengan mudah kutelan dan kuterima. Tapi hari ini, aku sudah besar, sudah memiliki gelar Mahasiswa, dan sudah semestinya aku memahami sesuatu dengan pengetahuan dan ilmu. Dan Ayah lah yang menyadarkanku akan hal itu.
Penelusuranku tentang pemikiran Gus Dur dimulai.
Pemikiran Gus Dur yang pertama kujelajahi adalah, kenapa ia selalu ada digaris depan untuk membela orang-orang yang dinyatakan 'bersalah' oleh kebanyakan orang? Terutama mereka yang dinilai melanggar keadaban orang Muslim. Goyang Inul, misalnya, ketika banyak orang Islam yang menghujat penyanyi asal pasuruan itu, Gus Dur lah yang paling terang-terangan menyodorkan tangannya untuk memberi perlindungan padanya. Apakah itu disebabkan Gus Dur mendukung tingkah laku Inul? Tidak.! Tidak seperti itu yang kulihat. Bagiku, Gus Dur adalah 'jalan terakhir' dalam konsep Dakwah yang termaktub di Surat Al-Ashr. Ketika semua orang menghujat Inul dengan Ayat Tuhan, melemparinya dengan berbagai bentuk 'Watawa saubil haqqi', Gus Dur lah yang menjadi wujud terciptanya 'Watawa saubis Shabri'. Kesabaran dalam menemani dan membimbing, agar Inul sebagai objek dakwah, satu ketika akan menerima apa yang disebut 'Hidayah'. Gus Dur seolah menyadari, bahwa turunnya Hidayah Allah tak semudah terlemparnya ayat dari seorang Da'i kepada Mad'unya. Harus ada kesabaran, harus ada proses menemani. Harus.! Dan kasus semacam ini dalam perjalanan Gus Dur tidaklah sedikit.
Pemikiran Gus Dur selanjutnya yang terendus olehku adalah, tentang pembaptisannya di sebuah Gereja. Ini yang dulu paling membuatku muak. Kenapa seorang Kyai mau-maunya masuk ke tempat ibadah orang lain, bahkan didoa'kan oleh banyak orang dengan nama Bapak, Yesus, dan Bunda Maria. "Itu murtad.!" Teriakku saat itu ketika melihat rekaman Videonya. Tapi rupanya, ada hal penting yang kulupakan, bahwa peristiwa itu terjadi saat Gus Dur sedang menjadi Kepala Negara. Ini artinya, dia bukan hanya milik orang Islam, tapi semua masyarakat Indonesia. Tak peduli dengan adat atau Agama yang berbeda, dirinya harus tetap berlaku adil, semuanya harus dipandang dalam martabat yang sama. Masalah tentang Do'a umat Kristiani untuk Gus Dur itu, yang digelincirkan oleh majalah Sabili sebagai praktik 'Pembaptisan', akhirnya hanya ditertawakan oleh Gus Dur. Bagaimana tidak? Bagi Gus Dur, agama itu letaknya di hati, dan Tuhanlah yang menghakimi. "Kalau saya shalat, puasa, zakat, naik haji, tapi jika hanya pura-pura? Kan batal semua. Nah para pendeta itu tidak hafal dengan Isi hati saya." Ungkap Gus Dur kepada sahabatnya Cak Nun.
"Al-Qur'an adalah kitab paling Porno.." Kalimat Gus Dur ini menjadi sesuatu yang saya telusuri selanjutnya. Gara-gara ungkapan ini, Gus Dur dihakimi habis-habisan oleh banyak orang Islam. Dia dituduh telah menghina al-Qur'an, mencaci Agama, dan melecehkan Pembuatnya, yakni Allah. Karena Porno berkonotasi negatif, tentu itu tak pantas jika disandingkan dengan al-Qur'an yang suci. Kemudian saya bertemu dengan bukunya Muhammad Guntur Romli yang berjudul, 'Ustadz, Saya Sudah Di Surga'. Di buku ini lah, saya mendapatkan ungkapan Gus Dur tentang porno itu secara lengkap dan utuh. Guntur Romli kebetulan waktu itu menemani Gus Dur dalam sebuah acara kongkow, di tengah acara Gus Dur bilang, "Seandainya ada orang yang pikirannya ngeres, tentu dia akan bilang bahwa AL-QUR'AN KITAB PALING PORNO. Karena di dalamnya ada pembicaraan tentang menyusui.". Lihatlah, kata-kata Gus Dur ditebas sedemikian rupa. Hingga akhirnya, kalimat yang sebenarnya merupakan 'Pengandaian', dipropagandakan sebagai 'Statmen Penghinaan'. Ah, aku sangat mengerti, kehancuran yang diakibatkan oleh 'mengutip' setengah-setengah semacam ini.
"Gitu aja kok repot." Bagiku, kalimat yang menjadi khas Gus Dur ini, adalah puncak dari semua pemikirannya. Mungkin bagi Kyai yang senang bersilaturahmi kepada para Ulama ini, segala yang terjadi di dunia ini adalah sederhana, tak ada satu pun peristiwa yang boleh membuat dirinya repot, tak ada satu pun kejadian yang boleh mengusik hatinya untuk dzalim, menindas, mengasingkan, menghina, menghujat, dan berlaku tidak adil kepada sesama manusia. Itulah yang membuat Gus Dur tetap 'kalem' meski dicaci sedemikian rupa.
Berbeda dengan kita, yang terkadang terlalu 'Baper' pada banyak peristiwa yang mendatangi, sehingga kehidupan ini dipandang sebagai kerepotan-kerepotan yang seolah tak akan selesai. Harus kuakui, kalimat "Gitu aja kok repot" yang membuat cintaku kepada Gus Dur mulai berdetak, menjelma diam-diam. Karena orang yang telah menganggap 'hidup bukanlah kerepotan', adalah dia yang telah lulus dalam pertengkaran yang mengerikan dengan dirinya sendiri. Dan orang semacam itu sangat pantas kuhaturkan cinta.
Begitu banyak pemikiran Gus Dur yang kutemui dalam perjalananku menuju 'Rindu' dan 'Cinta', yang tak bisa dituliskan dalam catatan sederhana ini. Bukan karena tak ada waktu dan tak becus mengungkapkannya, tapi aku sudah sangat rindu menggendong anakku yang masih kecil. Sabda. Dia menangis terus.
Yang amat kusyukuri dalam hubunganku dengan Gus Dur, adalah pertemuanku dengan Ayah pada sebuah mimpi, seraya memberi pesan yang begitu berharga bagi seorang pembelajar sepertiku. Akan kukirim do'aku pada kedua Kyai itu melalui hening dan diam. Dan dalam diam itu, biarlah kukenang kembali apa yang pernah disabdakan Muhammad Sang Nabi Agung berabad-abad lalu, "Manusia itu cenderung membenci sesuatu yang tak dia ketahui."
(Kado Haul Gus Dur yang Ke-6)
Selamat Datang di Blogsite MTs Negeri Berbek - Mewujudkan Insan MUTTAQIN (Mandiri, Unggul, Taqwa, Terampil, Amanah, Qur'ani dan INovatif #mtsnberbek.com
#mtsnberbek.com Terima Kasih Anda telah berkunjung di Blogsite kami - Jadilah orang pertama di antara teman-teman yang menyukai ini. #MADRASAH LEBIH BAIK LEBIH BAIK MADRASAH
Copyright © 2015 MTs Negeri Berbek Kabupaten Nganjuk . Designed by Zayn Mohammad